jeti

Love can’t reach chapter 14 (ENDING)

Love can’t reach chapter 14 (ENDING)

 

 

Cast :

 

– Jessica Jung

 

– Tiffany Hwang

 

 

– Other cast find by your self

 

 

 

Enjoy this story, many typo

 

 

 

*****

 

 

 

Kesesakan yang terasa di dada Jessica bukan lagi membuatnya tidak nyaman, kesesakan ini sudah menjadi kesakitan. Seolah saat sakit ini bertambah sedikit saja, maka jantungnya pun akan meledak.

 

Jessica dengan segala kelelahan dan kesakit hatiannya, masih berada di dalam mobil yang sedang dikendarainya. Tangisan Jessica pun masih terdengar, isakannya pun terasa semakin sering terdengar. Jessica sesekali mengusap pipinya yang basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti.

 

Harapan Jessica untuk mendapatkan hati yang tulus untunya hancur sudah, saat Tiffany yang buta akan kehadiran Jessica. Dengan Krys yang bermain di belakangnya, entah Tiffany tau atau tidak Jessica tidak ingin memusingkan itu.

 

Jessica yang matanya sudah terpaku ke arah Tiffany, dan kini ingin berganti arah. Tapi lagi-lagi hati Jessica sudah harus patah sebelum dia sempat berjuang. Jessica rasa alam sangat ingin membuat Jessica sadar akan posisinya yang bukanlah siapa-siapa.

 

Jessica bukanlah seseorang yang istimewa, sehingga tidak perlu berpikir untuk mendapatkan cinta yang istimewa pula.

 

Jessica yang sibuk dengan pikiran dan kesakitannya itu, tidak menyadari kalau mobil yang dikendarainya kini sudah melaju tanpa tahu akan kemana. Dengan kekalutannya itu, Jessica tidak menyadari kalau kini ada mobil yang berlawanan arah dengannya sedang mencoba mendahului kendaraan lain. Sehingga kini mobil itu berada pada lajur milik Jessica.

 

Mobil yang sedang melaju kencang itu pun, kini dengan tidak bisa menghindar langsung menghantam mobil Jessica dari arah depan. Kedua mobil yang sama-sama melaju kencang itu pun bertubrukan dengan bringasnya.

 

Jessica yang tidak terlalu fokus dengan apa yang ada di depannya pun hanya bisa menjerit saat kecelakaan itu terjadi. Dan tiba-tiba saja badan depan mobil Jessica terlihat sudah penyok. Jessica yang berada di dalam mobilnya pun sekarang sampai terhimpit oleh kemudinya.

 

Sesaknya dada Jessica karena sakit hatinya, sekarang digantikan oleh kesesakan yang terasa nyata menyakitkannya. Jessica yang masih terasa bingung dengan apa yang terjadi, semakin lama semakin sadar dengan apa yang sedang dia alami. Jessica hanya bisa terkekeh merasakan apa yang dia alami sekarang.

 

Seolah tidak cukup dengan apa yang dia rasakan dengan hatinya, sekarang Jessica pun dipermainkan oleh alam. Sekali lagi.

 

Jessica yang merasa kepalanya berkeringat, entah kenapa seolah keringat dari kepalanya terasa tidak mau berhenti keluar. Dengan kesadaran yang semakin menurun, Jessica mengangat tangannya walaupun sulit karena tubuhnya yang terhimpit rapat.

 

Saat tangannya mencoba membersihkan keringatnya, yang Jessica lihat bukanlah cairan bening keringatnya. Melainkan cairan merah pekat yang menutupi seluruh telapak tangannya itu.

 

Seketika mata Jessica pun berkunang-kunang, kesadarannya pun semakin menipis. Kaki Jessica sudah tidak dapat digerakkan lagi, sudah mati rasa akibat himpitan badan mobil. Terdengar suara teriakkan orang-orang dari luar.

 

Ada yang berteriak meminta pertolongan, ada yang berteriak untuk membukakan mobil milik Jessica maupun milik lawan hantamannya itu. Ada pula yang berteriak-teriak disebelah mobil Jessica, menyuruhnya agar tetap pada kesadarannya.

 

Tetapi Jessica yang pengelihatannya semakin menggelap, tubuhnya yang semula sakit teramat sangat. Kini perlahan semakin melemas, kesakitannya pun semakin berkurang.

 

Sungguh, kalau ini memang akhir dari kisah hidupnya. Jessica sangat tidak rela, mati dengan keadaan yang menggenaskan seperti ini.

 

Mengenaskan karena, di akhir hidupnya pun dirinya masih tidak mendapatkan seseorang untuk dipegang tangannya setiap waktu. Jessica di akhir hidupnya harus menerima kalau dirinya harus mati dengan sendirian.

 

Di tengah ramainya orang-orang yang berteriak di sekitarnya, dirinya benar-benar merasakan kesepian yang mencekam.

 

Perlahan-lahan kesadaran Jessica semakin melemah, pandangannya yang semula diwarnai dengan hitam bercampur merah. Kini berubah dengan warna hitam yang semakin memeluknya. Warna hitam yang seakan tidak ada cahaya putih setitikpun untuk menerangi pengelihatannya. Dan Jessica pun memilih untuk mengikuti warna hitam itu tanpa ada maksud untuk menolak, karena memang tubuhnya sudah tidak mampu.

 

 

***

 

 

“Jesicaaaa”.

 

Terdengar teriakan dari seorang gadis yang sedang meringkuk itu, tanpa memperdulikan bajunya yang akan kotor karena bersentuhan dengan tanah yang dengan lancangnya mengotori bajunya itu. Menempel dengan tidak tahu diri.

 

Dirinya yang masih tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, dirinya yang masih tidak mampu menyadari kalau dia hanyalah seseorang yang sekarang akan sendirian.

 

Tiffany yang sedari tadi hanya bisa meringkuk di atas tanah basah itu, yang hanya bisa sesekali menggaruk tanah dan memukul-mukul tanah itu. Seolah seseorang yang sudah terkubur jauh di dalamnya itu dapat di keluarkan lagi dengan pukulan-pukulan yang dilakukan Tiffany pada tanah itu.

 

Tangisan Tiffany yang meraung-raung seolah tidak ada esok hari lagi untuknya menangis, tangisannya seolah dihabiskannya saat ini juga. Karena memang untuk Tiffany, hari esok sudah tidak ada artinya lagi untuknya. Hari esok hanya akan menjadi lingkaran hitam yang hampa bagi Tiffany. Yang tidak akan ada artinya lagi untuk Tiffany.

 

Tiffany yang tubuhnya sudah lemas, bahkan hanya untuk berdiri saja pun tidak mampu. Kini hanya bisa menangis sebisa yang dia mampu, berharap Jessica bisa mendengar tangisannya dan mau kembali lagi di sisi Tiffany. Tangisan Tiffany yang di iringi nama Jessica yang selalu disebutnya di sela-sela tangisannya itu.

 

Mengapa Jessica tidak mau kembali ke sisinya saat Jessica jelas-jelas mendengar tangisan pilunya. Mengapa Jessica tidak mau mendengar hatinya yang menjerit memintanya untuk kembali. Tiffany bahkan bersumpah kalau Jessica mau kembali ke sisinya, Tiffany berjanji tidak akan memaksa apapun itu.

 

Tiffany berjanji akan menjalani sisa hidupnya tanpa cinta, kalau itu dapat membuat Jessica kembali ke sisinya. Karena memang hatinya sudah terpaut pada Jessica, tidak dapat bergerak kemanapun.

 

“Jesicaaaa, please comeback to me”.

 

Berkali-kali Tiffany meneriakkan kata-kata itu, tetapi mengapa Jessica tetap tidak mau mendengar permintannya ini. Jessica yang dulu bahkan tidak tahan melihat Tiffany meneteskan air matanya, tapi kini saat Tiffany menangis sekeras ini. Jessica tetap tidak mau menghiraukannya. Apakah terkubur jauh di dalam tanah itu lebih nyaman dibandingkan berada di sisinya. Berada di samping Tiffany.

 

Sedangkan di sisi tempat yang lain, masih pada tempat yang sama. Terlihat seorang gadis, yang lebih tepatnya wanita. Karena kegadisannya sudah lebih dulu menghilang, bagaimana mungkin dia masih bisa disebut gadis. Sedang memukul-mukul dada lelaki yang ada di hadapannya itu.

 

“Kalau saja aku lebih agresif pada Jessica, kalau saja mataku selalu tertuju padanya”.

 

“Ini semua salahku, aku yang membuatnya celaka. Aku yang telah membunuhnya”.

 

Dengan brutal wanita itu tetap memukul-mukul dada laki-laki itu seolah lawannya itu tidak dapat merasakan sakit. Sebenarnya wanita itu tadinya sedang memukul-mukul dirinya sendiri sambil terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Jessica. Tetapi sang lelaki dengan sigap menahan tangan sang wanita, jadilah tubuh sang lelaki yang menjadi sasaran pengganti.

 

Penyesalan sang selalu berada jauh di belakang, pada saat kita terlena dengan apa yang kita miliki sekarang. Saat diri kita tidak mau bergerak dengan apa yang kita jalani sekarang, tetapi sang waktu selalu berjalan meninggalkan kita.

 

Tiffany yang bahkan tidak ada kemauan untuk bergerak, tidak ada kemauan untuk menyatakan cintanya kepada Jessica. Kini harus rela tertinggal oleh waktu, kini Jessica tidak dapat lagi terjangkau.

 

 

 

 

 

 

 

THE END

 

 

 

******

 

 

 

Author note :

 

 

Hei reader semua apa kabar 🙂

 

Nih yang pengen ff-nya di update, udah aku update nih 🙂

 

Gimana ceritanya, feelnya dapet enggak? Apa malah garing?

 

 

 

 

 

 

jeti

Cara untuk mendapatkan password LCR chapter 13

 

How to get a password Love can’t reach chapter 13

Aku mau kasih tau aja, untuk chapter 13 bakal saya password dan kayaknya udah pada tau kan. Bukan ada maksud buat gaya2an atau apa, atau mau nyusahin reader. Beneran gak ada maksud, tapi aku cuma mau ngasih reward aja buat para reader yg rajin komen dan yang ngasih masukan yang komen2nya super. Jadi dia baca dan dia mau ngasih energi buat saya itu saya seneeeeng banget serius.

Terus terang saya mikir, gimana caranya buat berterima kasih sama reader baik yang rajin komen. Bukan cuma ucapan ‘terima kasih’ aja, ya saya rasa cara ini bagus. Saya gak masalah kalau emang chapter pw-an nya cuma dibaca gak sampek 10 orang atau bahkan cuma 5 orang.

Jadi untuk para reader yang ngerasa ada chapter yang bolong / kelewatan gak komen tolong dengan sangat silakan komen. Saya akan sangat menghargai walaupun kamu komennya pakek sistem kebut semalam.

Saya tau saya author amatir yang gak layak buat gini’in kalian, sekali lagi saya minta maaf. Saya tau saya cuma orang baru dengan wp yang kecil kayak gini.

Buat kalian yang mau dapetin PW, syaratnya adalah

1. Komentar di setiap chapter love can’t reach

2. Kalau sudah ngerasa komentar udah lengkap, silahkan email ke

areisious2@gmail.com

Dengan format : nama id/umur/omongan untuk minta pw(apapun yang menurut kalian pantas 🙂  )

Soal umur, saya cuma pengen tau aja berapa umur para reader saya, gak ada hubungannya ini bakal rated atau enggak 🙂

Oh ya kalian bisa email saya kapan aja buat lebih jelasnya dan mau nanya soal chapter berapa aja yang belum kalian komenin juga silahkan. Saya akan dengan senang hati ngejawabnya.

Buat bocoran aja, di list saya sudah ada 4 nama reader yang bakal dapet ini password karena mereka emang dari chapter 1 selalu komen. Jadi yang mau nanya2 gak usah sungkan gak usah malu

Sekali lagi ini bukan soal saya gila komen atau apa, apa lagi maksa buat para reader untuk selalu komen. Untuk yang gak pengen susah-susah komen dari awal juga gak papa kok, serius. Bahkan saya udah seneng kalo ada yang sudi buat baca cerita2 buatan saya.

Sekali lagi terima kasih yang udah mau mampir ke wp ini, semoga sehat selalu, rejeki kalian lancar:-)

jeti

Love can’t reach chapter 12

Love can’t reach chapter 12

 

 

Cast :

– Jessica Jung

– Tiffany Hwang

– Other cast find by your self

 

 

Enjoy this story, many typo

 

 

*****

 

 

Terik matahari telah berganti dengan jingganya langit, tidak terasa Jessica dan Tiffany menghabiskan waktu di taman ini. Mereka yang hanya lebih banyak diam menikmati waktu mereka, Jessica yang sedari tadi berbicara mungkin sudah lelah bermonolog lebih memilih hanya merengkuh Tiffany dalam pelukannya.

Tiffany yang memang sedang dalam keadaan yang sama sekali tidak baik tentu tidak ada keinginan untuk berbicara banyak, dan untunglah Jessica sangat memaklumi keadaan Tiffany walaupun sesungguhnya Jessica tidak mengetahui alasan kenapa Tiffany menangis sendirian seperti itu.

Jessica tentu sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Tiffany, tapi lebih dari apapun kondisi Tiffany adalah yang utama.

Jessica sedang mengendarai mobil Tiffany saat ini, Jessica tidak ingin Tiffany menyetir dalam keadaan kalut seperti itu. Menyetir dalam keadaan kalut seperti dirinya dulu bukanlah ide yang bagus, beruntung tidak terjadi apa-apa terhadap Tiffany.

Jessica sedang berjalan-jalan sore ini saat dia menemukan Tiffany sedang duduk sendirian, senyum mengembang pada awalnya tapi saat melihat bahu Tiffany yang berguncang hebat dan kepala Tiffany yang terus menunduk membuat dahi Jessica mengerut.

Dan betapa hati Jessica teriris saat menyadari Tiffany menangis sehebat itu, demi tuhan saat kamu melihat orang yang kamu cintai menangis maka dadamu akan terasa sakit dan secara naluriah kamu juga akan ikut menangis.

Jessica yang beberapa lama hanya bisa mematung tanpa mendekat ke arah Tiffany karena sesungguhnya Jessica juga ikut menangis, Jessica harus mengendalikan dirinya agar dia tidak larut dalam tangisannya terlalu lama dan bisa membuat Tiffany membaik. Bagaimana bisa Jessica menghibur Tiffany saat dirinya sendiripun juga menangisi Tiffany.

Dan saat mereka sampai dirumah Tiffany, Jessica pun turun lebih dulu dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Tiffany. Tapi saat Jessica membukakan pintu, Tiffany bahkan tidak bergerak. Dia hanya terdiam dengan pandangan kosong, entah pikirannya sedang dimana tapi yang pasti tidak dengan Jessica.

Jessica hanya bisa menghela nafas, apa yang sebenarnya terjadi terhadap Tiffany?. Dimana Krys oppa saat Tiffany membutuhkan seseorang disampingnya seperti ini, sangat sedih melihat Tiffany dalam kondisi tepuruk seperti ini.

Jessica berjongkok disamping Tiffany dan memegang tangan Tiffany, seketika itu lamunan Tiffany buyar dan memandang ke arah Jessica. Jessica tersenyum teduh memandang Tiffany, genggaman tangannya semakin erat. Pandangan mereka bertahan beberapa lama, Tiffany dengan tatapan sayupnya dan Jesica dengan senyuman teduhnya.

“Apapun itu, apapun yang terjadi padamu. Kamu harus tahu kalau aku akan selalu ada untuk kamu Tiff”. Ucap Jessica sambil sesekali ibu jarinya mengelus punggung tangan Tiffany. Jessica ingin meyakinkan Tiffany kalau dia tidak sendirian, walaupun semua orang berlomba-lomba untuk menghindarinya. Jessica akan selalu di sisinya.

Tiffany yang mendengar perkataan Jessica bukannya tersenyum tetapi malah menangis lagi, dan itu membuat Jessica semakin panik. Bukankah apa yang dikatakan Jessica benar, dia memang akan selalu ada untuk Tiffany apapun itu tapi kenapa Tiffany malah semakin menjadi seperti ini.

Tangan Jessica terulur untuk menghapus air mata Tiffany yang terus turun, Jessica kali ini lebih memilih untuk diam. Dia tidak ingin salah berbicara atau apapun yang membuat Tiffany semakin memburuk.

Tiffany benar-benar terharu dengan ucapan Jessica, dia pikir Jessica telah melupakannya. Tiffany pikir Jessica kini lebih sibuk dengan Taeyeon si orang baru itu dari pada dirinya, Tiffany pikir dirinya sudah tidak ada artinya lagi.

Memikirkan kalau Jessica sudah tidak menginginkan dirinya dan Krys yang menghianatinya sungguh membuatnya hancur, dunia serasa sedang tidak berpihak padanya.

Masih dengan tangisannya, Tiffany mencondongkan tubuhnya ke arah Jessica yang sedang berjongkok dan memeluk Jessica. Jessica yang sedari tadi berjongkok jujur saja kakinya sudah kram dari tadi tetapi kalau balasannya adalah pelukan hangat dari Tiffany, itu benar-benar sepadan. Terlihat posisi mereka saat ini Jessica yang berjongkok dan Tiffany masih duduk pada jok mobil tubuhnya yang condong keluar karena memeluk Jessica.

Beberapa lama mereka berpelukan, Tiffany menjauhkan sedikit wajahnya masih dalam posisi memeluk Jessica dia memandang wajah Jessica yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Tiffany menatap dalam mata Jessica dengan mata merah akibat tangisnya itu.

Seakan ingin menelusuri isi hati Jessica lewat matanya, tatapan itu seolah dapat menjawab semua pertanyaan Tiffany terhadap Jessica yang nyatanya hanya sebuah tatapan dalam dari keduanya.

Tiffany dan Jessica beradu tatap sekian lama seolah mereka ingin menghafal lekuk wajah keduanya seakan mereka tidak cukup untuk saling mengetahui bentuk wajah satu sama lain.

Tiffany yang seakan tidak memperdulikan akan mendapat tamparan atau bahkan pukulan dari Jessica, Tiffany hanya ingin mengetahui reaksi dari Jessica dan bisa sedikit mendapat pencerahan atas isi hati Jessica.

Dengan segenap keberaniannya dan dorongan dari hatinya yang sudah hancur saat ini, Tiffany mulai mendekatkan wajahnya kearah wajah Jessica. Perlahan-lahan seolah Tiffany ingin menikmati saat-saat mereka, Tiffany benar-benar ingin menghabiskan hari-harinya bersama Jessica kalau dia bisa.

Perlahan jarak wajah mereka pun semakin terkikis, Tiffany semakin mencondongkan tubuhnya kearah Jessica. Tangan Tiffany terulur menyentuh pipi dan pundak Jessica, perlahan hidung mereka mulai saling bersentuhan. Jessica hanya dapat diam membeku sedari tadi tidak berani bergerak, otaknya masih bingung dengan apa yang akan Tiffany lakukan.

Saat hidung mereka bersentuhan, Tiffany sedikit menggesek-gesekkan ujung hidung mereka. Pelahan Tiffany memejamkan matanya seiring jarak bibir mereka yang semakin menipis. Saat bibir mereka bersentuhan, keduanya menutup mata mereka. Tiffany menarik nafas pendek-pendek, seakan persediaan udara di paru-parunya semakin menipis. Bibir mereka hanya bersentuhan, Tiffany tidak berani berbuat lebih jauh.

Beberapa saat, Tiffany memisahkan tautan bibir mereka dan menjauhkan wajah mereka. Tiffany kembali membetulkan duduknya lagi tetapi masih menghadap ke arah Jessica. Nafas Tiffany sedikit terengah, wajahnya memerah walau bibir mereka hanya bersentuhan.

Jessica yang benar-benar terkejut dengan perlakuan Tiffany padanya hanya bisa terdiam, tetapi belum sempat dia memproses apa yang terjadi. Tiffany sudah melepaskan tautan bibir mereka dan itu membuat Jessica sedikit kesal. Dengan berat hati, Jessica membuka matanya perlahan.

Saat pandangan matanya menemukan wajah Tiffany yang memerah dan nafas terengah, dia menyadari bahwa kondisi mereka tidak jauh berbeda. Dan dia rasa apa yang dirasakan Tiffany pun juga sama seperti dirinya, Tiffany menikmati ciuman ini.

Entah itu karena Tiffany terbawa suasana karena suasana hatinya yang sedang buruk atau apa, tapi Jessica pikir dia mempunyai harapan atas Tiffany. Walaupun fakta bahwa Tiffany masih milik oppanya, itu membuat dia seakan ingin menyerah. Dia selalu mengutuk akan kenyataan yang membuat dia tidak punya pilihan, Jessica buka orang yang ingin merusak hubungan orang lain.

Tetapi saat Tiffany menyentuhnya seperti tadi membuat Jessica ingin memiliki Tiffany sendiri, hanya untuknya. Tetapi Jessica tidak ingin membuat semuanya semakin memburuk.

Perlahan tangan Jessica meraih jemari Tiffany dan memegangnya erat, Jessica menarik tubuh Tiffany supaya keluar dari mobil. Dengan jemari yang masih bertautan, mereka berjalan ke arah rumah Tiffany. Saat sampai di depan pintu rumah Tiffany, mereka berdua hanya bisa saling pandang tanpa mengatakan ataupun berbuat apapun.

“Istirahatlah, aku akan pulang”. Ucap Jessica memecah keheningan dan memilih berbalik pulang tentu dengan berjalan kaki.

Tapi saat Jessica berjalan beberapa langkah, tiba-tiba lengan Jessica ditahan oleh seseorang yang tentunya Tiffany.

Tiffany pun menarik lengan Jessica agar berbalik ke arah Tiffany, saat Jessica berbalik ke arah Tiffany. Tiffany pun dengan cepat menarik lengan Jessica agar Jessica mendekat ke arahnya dan meraih tengkuk Jessica. Tiffany pun dengan segera menempelkan bibir mereka dan melumat bibir Jessica dengan tergesa.

Lumatan yang menggambarkan cintanya yang menggebu untuk Jessica tetapi bahkan tidak mampu mengatakan apapun. Tiffany melumat bibir Jessica dengan sedikit kasar, tangannya semakin mengerat pada tengkuk Jessica. Bibir Tiffany melumat bibir atas Jessica dengan keras seakan ingin menghabiskan bibir Jessica saat ini juga.

Saat terasa Jessica akan membalas ciuman Tiffany, Tiffany dengan segera menjauhkan bibirnya dari Jessica. Terlihat Jessica menggerang karena perbuatan tiba-tiba Tiffany yang sekali lagi membuatnya kesal, bahkan sangat.

“I need you Jess, don’t leave me please”. Ucap Tiffany saat nafas mereka sedikit kembali normal.

“I never leave you, Tiff. You never walk alone”.

“Tetapi belakangan ini kamu sibuk dengan dunia barumu”. Ucap Tiffany sedih.

“Maaf”. Hanya itu yang bisa Jessica katakan, otak Jessica seakan berhenti bekerja tiba-tiba. Jessica hanya sedang memikirkan apa yang sedang dilakukan Tiffany baru saja.

Apa yang ada dipikiran Tiffany saat ini, kalaupun hanya sedang larut dalam suasananya. Kenapa Tiffany sampai sebegitu brutalnya. Terus terang bibir Jessica sampai sakit karena ciuman kasar Tiffany barusan, bibirnya sedikit membengkak karenanya.

Belum selesai Jessica dengan pikirannya, Tiffany pun dengan perlahan menarik Jessica kedalam rumahnya. Jessica seperti terhipnotis hanya bisa berjalan mengikuti Tiffany dari belakang sambil tangan mereka yang tetap bertautan.

Tiffany perlahan membawa Jessica ke arah kamarnya, tetapi saat tepat di depan pintu kamar Tiffany. Tiba-tiba saja Jessica menghentikan langkahnya, tentu itu membuat Tiffany sedikit terkejut dan membalikkan badannya menghadap Jessica tapi dengan tangan mereka yang masih tetap bertautan.

“What’s wrong Jessie?”.

“Aku….aku harus pulang”. Ucap Jessica setelah kesadarannya terkumpul.

Tiffany yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah Jessica yang terlihat gugup.

“Menginaplah disini Jessie, aku sendirian di rumah”.

“Tapi….”.

“Please Jessie….”

Jessica hanya bisa menghela nafas, dia tidak pernah bisa menang melawan Tiffany yang sedang memohon. Tanpa berkata apa-apa lagi yang mungkin sedari tadi Jessica memang sedang sulit berbicara. Jessica hanya memasuki kamar Tiffany dan langsung duduk di sofa kamar Tiffany.

****

Setelah mereka membersihkan badan dan mengganti dengan baju yang lebih nyaman, tentunya dengan Jessica yang meminjam baju Tiffany. Mereka pun sekarang sedang berbaring di atas ranjang bersiap menuju alam mimpi masing-masing.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa sedari setengah jam yang lalu dari keduanya tidak ada yang bisa untuk tidur. Mereka berdua hanya memandang langit-langit dan berbaring kaku seolah ini adalah kali pertama mereka menginap yang nyatanya bukan.

Tiffany yang dengan semua pikiran dan kegelisahannya, dia benar-benar seperti gadis tidak tahu aturan yang mencium orang dengan sembarangan. Yang lebih parahnya lagi orang itu bahkan bukan kekasihnya, Tiffany juga tidak tahu apakah Jessica masih sendiri atau tidak. Bisa saja Jessica sudah menjadi milik Taeyeon mengingat kedekatan mereka yang sangat intim. Apakah dia harus mengambil langkah cepat atau harus menunggu lagi, dia sejujurnya sudah lelah harus menunggu sekian lama atas Jessica.

Sementara Jessica pun tidak lebih baik, dia sedang berpikir apakah dia jahat dengan menikmati perlakuan Tiffany tadi. Tentu dia tahu Tiffany adalah kekasih Krys oppanya, tetapi Jessica sebagian hatinya berkata Tiffany sangat pas untuknya. Mereka seakan ditakdirkan memang menjadi pasangan, tapi disisi lain Jessica selalu merasa nyaman saat bersama dengan Taeyeon. Seakan hidupnya akan selalu berjalan baik, seakan semua masalahnya lenyap hanya dengan adanya Taeyeon.

Tiffany bagi Jessica bagai labirin yang tidak akan bisa dia selesaikan, mungkin saat ini Tiffany merasa sangat sedih sehingga membutuhkan pelampiasan saja. Dan saat ini Jessicalah yang berada disampingnya, mungkin saja saat Krys oppa disampingnya dialah yang akan menenangkan Tiffany. Dalam hati Jessica merasa bersalah karena belakangan ini tidak ada waktu untuk Tiffany dan lebih memilih menghabiskan waktunya dengan Taeyeon.

Saat Jessica dengan pikirannya yang melayang jauh, dengan perlahan lengan Tiffany menyusup ke belakang tengkuk Jessica dan menarik Jessica ke dalam pelukannya menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk Jessica. Jessica yang awalnya menegang lambat laun menyamankan diri di dalam pelukan Tiffany, Jessica memiringkan tubuhnya ke arah Tiffany sedangkan Tiffany masih dengan tubuh yang berbaring nyaman.

Seiring dengan kenyamanan yang didapat dari keduanya, seiring itu juga deru nafas teratur terdengar dari keduanya. Seakan melupakan kegundahan hati keduanya sejenak, mereka hanya ingin menikmati waktu berdua mereka yang indah.

Tbc….

*******

Heeeiii apakabar?? Sehat?

Gimana feelnya? Dapet atau malah garing? Chap-nya pendek ya. 😀

Saya gak tau apakah chap ini bisa dibilang romantis atau enggak, kayaknya sih enggak ya 😀

Saya sebenernya seneng kalo mau buat scene kayak gini, tapi ya gitu saya harus nyari mood yg bagus dan semangat buat nulisnya.

Gak kayak pas buat scene sedih, kalo buat scene sedih itu saya harus nyari semangat dan moodnya juga gak boleh yang seneng banget dan gak boleh sedih juga. Susah banget kl buat scene sedih.

Oh ya mau ngasih tau aja kalo next chap itu bakal saya password dan next bakal saya kasih tau gimana cara dapetin pw-nya. Gak bakal susah kok caranya 🙂 . Jadi yg ngerasa gak berkenan saya bener2 mnta maaf sebelumnya

See you on next chap 🙂 . Sehat selalu teman-teman.

jeti

Love can’t reach chapter 11

Love can’t reach chapter 11

 

 

Cast :

 

– Jessica Jung

 

– Tiffany Hwang

 

– Other cast find by your self

 

 

Enjoy this story, many typo

 

 

****

 

 

Tiffany sedang berada di kediaman keluarga Jung, dia ingin bermain dengan Jessica. Tapi Jessica sedang tidak berada dirumah, salahkan Tiffany yang tidak mengirim pesan kepada Jessica dahulu.

 

Niat Tiffany untuk memberi Jessica pelajaran karena peristiwa di cafe tempo hari itu gagal sudah, sebenarnya Tiffany ingin mencincang tubuh Jessica saat ini. Tapi karena Jessica sedang tidak ada tidak mungkin Tiffany mencincang tubuh mommy Jung, sangat tidak sopan sepertinya.

 

Dan disinilah dia, di dapur bersama dengan mommy Jung yang sedang sibuk membuat makan siang.

 

” Tiffany sayang, maukah kamu mengantar makan siang ini ke kantor Krys, sekalian kamu makan siang disana. Mommy memasaknya terlalu banyak, lupa kalau Jessica sedang tidak dirumah”. Ucap mommy Jung sambil memasukkan masakannya kedalam kotak-kotak makan yang siap untuk disusun.

 

“Lalu mommy akan makan sendirian, apa tidak sekalian mom ikut ke kantor oppa denganku”. Ucap Tiffany.

 

“Tidak apa-apa Tiff, sayang saja kalau makanannya terbuang. Kamu saja yang kesana mom tunggu dirumah saja”. Jawab mom sambil menyerahkan susunan kotak makan yang akan dibawa oleh Tiffany.

 

“Oke mom, aku usahakan untuk tidak lama-lama agar mom tidak sendirian di rumah”.

 

“Santai saja, nikmati waktu kalian”. Ucap mommy Jung sambil mengelus lembut rambut Tiffany dan berlanjut membersihkan wadah-wadah kotor bekas memasak tadi.

 

 

*****

 

 

Tiffany sudah berada di lobby kantor milik Krys saat ini, Tiffany berkunjung ke kantor Krys sudah sekitar dua kali. Dan itupun harus dengan di’paksa’ oleh mommy Jung atau memang ada perlu, Tiffany memang tidak suka dengan situasi kerja yang menurutnya membosankan. Maka dari itu dia sebisa mungkin mencari tempat kencan yang lain, apalagi ini adalah tempat kerja bukan tempat yang pantas untuk berkencan menurutnya.

 

Saat Tiffany sudah didepan lift, dia sempat bingung apakah kantor Krys ada di lantai 7 atau 8. Karena setiap kesini dia selalu ditunggu oleh Krys oppanya di lobby kantor jadi Tiffany tidak perlu mengingat-ingat letak kantornya, dan memang hari ini dia tidak memberi kabar Krys oppanya. Tiffany pikir Krys oppa pasti ada di kantornya jadi dia tidak perlu memberi kabar apapun.

 

Tiffany sudah berada di dalam lift dan memutuskan untuk menekan tombol pada lantai 8, dia hanya ingin mencoba peruntungannya. Toh kalaupun salah lantai dia hanya harus pergi kelantai lainnya. Tiffany membetulkan letak kotak makan yang ada ditangannya sambil menunggu lift sampai ke lantai yang dituju.

 

Saat lift sampai ke lantai 8, Tiffany yang keluar dari lift dan menuju ke lorong yang ada didepannya. Saat Tiffany mulai melangkah di antara lorong-lorong itu, dia merasa ada yang janggal. Lorong itu terasa berbeda dari terakhir dia berkunjung kesini, lorong itu entah kenapa terasa sepi dan sedikit terasa lengang.

 

Tiffany mencoba melihat ke dalam salah satu ruangan dan ternyata ruangan itu kosong, bukan cuma kosong karena tidak ada orang tetapi benar-benar kosong tidak ada perabotan atau apapun disana. Tiffany mencoba melihat ke ruangan yang lain dan hasilnya sama bahkan tidak ada pintu di semua ruangan itu, dia mulai menyadari kalau dia salah lantai. Mungkin ruangan Krys ada di lantai 7, lantai ini bahkan belum dipakai batin Tiffany.

 

Saat akan sampai ke ujung lorong yang seharusnya itu adalah kantor Krys oppanya, Tiffany sudah akan kembali ke pintu lift tapi ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatnya.

 

Tiffany seperti melihat ada bayangan dan suara dari ruangan di ujung lorong itu, dia memutuskan untuk mendekati ruangan itu berniat untuk menanyakan dimana ruangan Krys. Tiffany mengutuk kebodohannya yang tidak menanyakan itu kepada resepsionis atau apapun yang dapat mempermudahnya, apalagi Tiffany harus membawa kotak bekal yang semakin berat ditangannya ini.

 

Saat Tiffany tepat di depan ruangan itu Tiffany melihat ada dua orang yang sedang berhadapan, yang satu berdiri menghadap pintu dan yang lain membelakangi pintu. Terlihat kalau yang membelakangi pintu adalah seorang perempuan karena rambut panjang dan tubuh mungilnya, dan saat Tiffany mengarahkan pandangannya ke orang yang menghadap pintu betapa Tiffany lega.

 

Bagaimana tidak lega, kalau orang itu adalah Krys. Entah dia salah lantai atau bukan yang lebih penting dia bertemu dengan Krys saat ini.

 

Tapi langkah Tiffany terhenti saat melihat raut wajah Krys yang terlihat serius dan tangan yang bersedekap, mungkin Krys sedang membicarakan tentang pekerjaan. Tiffany memutuskan untuk menunggu sampai Krys selesai berbicara takut kalau kehadirannya menggangu Krys, tapi lama Tiffany menunggu didepan pintu bukannya selesai tapi membuat Tiffany semakin aneh.

 

Krys yang semakin mendekat ke arah perempuan itu dan terlihat perempuan itu hanya berdiri diam. Dan tiba-tiba saja gerakan Krys selanjutnyalah yang membuat mata Tiffany membulat seketika.

 

Krys terlihat mengulurkan tangannya ke arah wanita itu dan langsung merengkuh tubuh wanita itu dengan erat, dan wajah Krys pun langsung mendekat ke arah wanita itu dan dengan cepat melumat bibir wanita itu dengan rakus.

 

Tangan Krys yang masih merengkuh tubuh wanita itu pun dengan perlahan naik turun mengelus punggung dan semakin mempererat rengkuhannya.

 

Tiffany yang melihat itu pun hanya bisa berdiri kaku dan sangat terkejut dengan apa yang ada di depannya itu. Krys oppanya yang selama ini selalu memperlakukannya seolah Tiffany adalah barang mahal yang tidak bisa sembarang disentuh, krys oppanya yang selalu menuruti dan menghargai semua keputusannya. Krys oppanya yang baik, yang selalu dewasa disetiap keputusan dan tingkah lakunya.

 

Sekarang dengan mata kepalanya sendiri melihat Krys sedang mencumbui perempuan lain dengan rakus, yang bahkan Tiffany tidak tahu siapa wanita itu karena tidak bisa dan tidak ingin melihat wajah wanita itu. Krys oppanya yang dengan rakus sedang mencumbui wanita itu bahkan tidak menyadari ada sosok lain yang sedang ‘menikmati’ pertunjukan itu.

 

Demi tuhan ini adalah tempat yang semua orang bisa mendatanginya dan siapapun bisa memergoki kelakuan mereka. Ataukah jangan-jangan kegiatan seperti ini sudah wajar dilakukan oleh Krys, dalam hati Tiffany mengutuk kelakuan Krys yang memuakkan ini.

 

Belum selesai Tiffany menghadapi Jessica yang semakin menjadi dengan gadisnya itu, sekarang Tiffany harus menerima kenyataan kalau Krys oppanya bahkan bermain dengan liar di belakang Tiffany. Krys oppanya yang dia pikir bisa menghargai wanita ternyata sedang bercumbu di tempat yang menurut Tiffany tidak pantas.

 

Hati Tiffany langsung remuk seketika, remuk oleh dua bersaudara sekaligus. Jessica dan Krys yang dengan hebatnya sudah membuat dirinya merasa menjadi perempuan tidak berharga, mereka berdua sama-sama menjauhinya untuk perempuan lain. Air mata Tiffany dengan tidak diharapkan perlahan turun seiring dengan semakin sesak dadanya.

 

Tiffany sebenarnya ingin hubungannya dengan Krys diperbaiki, bagaimanapun Krys adalah orang yang menurutnya pantas untuk dipertahankan. Tapi setelah tahu kelakuan Krys seperti ini Tiffany bahkan sudah yakin hubungan mereka tidak bisa tertolong.

 

Tiffany pelan-pelan memundurkan langkahnya, perlahan agar dua manusia itu tidak menyadari kalau penonton mereka telah pergi. Air mata Tiffany bahkan sudah membasahi pipinya sedari tadi sampai-sampai Tiffany harus membekap mulutnya rapat agar isakannya tidak terdengar.

 

Tiffany membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju lift, bekal yang sedari tadi di bawanya semakin digenggam erat. Bekal ini entah kenapa terasa semakin berat, sungguh memuakkan mengingat dia kesini untuk makan siang dengan Krys dan berakhir seperti ini. Bayangannya yang ingin menghabiskan masakan mommy Jung bersama Krys disertai dengan canda pupus sudah, jangankan tawa. Binar-binar dimata Tiffany pun sudah tidak terlihat sekarang.

 

Tiffany bertanya-tanya, salah apa dia terhadap Krys sehingga Krys menghianatinya seperti ini. Bukankah semuanya terlihat baik-baik saja, sampai tiba-tiba Krys menjauh tanpa sebab. Sepertinya semua orang berlomba-lomba untuk menjauhinya, apakah Tiffany memang tidak pantas untuk dicintai. Apakah tidak bisa dia mendapat cinta yang bisa membuat harinya menjadi cerah, bukan menjadi kelam seperti ini.

 

Krys yang dia anggap sebagai malaikat itu bahkan bisa berbuat sebegitu brutal dibelakangnya yang bahkan masih sebagai kekasihnya. Memang dari awal Tiffany sempat menduga akan hal ini, tetapi tetap saja saat mengetahui tingkah Krys dibelakangnya seperti ini membuat hatinya hancur. Tiffany seakan merasa tidak ada tempat lagi untuknya, tidak ada yang mau menerima hatinya.

 

***

 

 

Tiffany dan keluh kesahnya bahkan tidak sadar telah mengendarai mobilnya sudah cukup lama, untunglah tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan saat mengendarai mobilnya tadi. Tiffany bahkan menyetir dalam keadaan kalut, beruntung tuhan masih menyertainya jadi dengan ajaib mobilnya sudah berada dilingkungan rumahnya.

 

Saat mobil Tiffany melewati taman favoritnya, lebih tepatnya taman biasa Tiffany dan Jessica menghabiskan waktu. Pandangan Tiffany tertuju pada bangku kosong tempat mereka biasa duduk, perlahan Tiffany mematian mesin mobilnya. Dia keluar dari mobil, yang lebih anehnya Tiffany dengan tidak malasnya tetap membawa kotak bekal itu kearah taman tersebut. Mungkin Tiffany berpikir akan memberikan makanan itu kepada orang acak yang lewat di depannya nanti.

 

Dengan raut wajah yang masih tidak karuan dan nafas yang masih sesenggukan dia berjalan ke arah bangku itu. Tiffany berjalan dengan langkah gontai seakan dia sedang berjalan kearah tiang gantung, mungkin saja memang kehidupan Tiffany berakhir. Lebih tepatnya kehidupan cintanya.

 

Tiffany berpikir apakah mungkin sudah tidak tersisa cinta untuknya, apakah memang dia akan berakhir sendirian seperti sekarang. Sedangkan orang di sekelilingnya terlihat membara dengan cinta mereka masing-masing. Seakan dunia ini hanya ada mereka saja tanpa ada gangguan dari manusia lain.

 

Air mata Tiffany yang awalnya sedikit mereda pun kembali mengalir, Tiffany meratapi nasibnya yang tidak beruntung ini. Nafas Tiffany semakin sesengukan, Tiffany bahkan tidak menghiraukan beberapa orang yang melewatinya dengan tatapan aneh. Tiffany dengan satu tangannya menyangga kepalanya yang semakin menunduk seakan saat tangannya tidak menyangga maka kepalanya akan langsung terantuk ke tanah.

 

Saat Tiffany sedang meratapi nasibnya dengan tangisannya itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk dengan agak kasar disebelahnya. Tiffany masih setia menundukkan kepalanya tanpa ingin melihat siapa yang dengan lancangnya mengganggu waktu pribadinya.

 

Orang itu terdiam disebelahnya tanpa melakukan apapun, hanya terlihat duduk diam. Lalu dengan tiba-tiba orang itu meraih susunan kotak bekal Tiffany yang ada di antara mereka, dengan cekatan orang itu membuka tiap kotak dan meraih salah satu sumpit itu.

 

Tiffany yang hatinya sedang kalut pun semakin dibuat aneh, apa yang sedang diperbuat orang aneh ini dengan kotak bekalnya. Memang Tiffany sudah tidak ada nafsu untuk memakan makanan itu, tapi saat ada orang asing yang dengan tidak tahu malu akan memakan makananmu. Bukankah alarm kepemilikanmu langsung menyala, walaupun dengan keadaan seburuk apapun hatimu saat ini.

 

Orang itu dengan santainya mengambil makanan dari kotak itu dengan sumpit dan dengan tidak terduga menyodorkan makanan itu ke depan mulut Tiffany. Tiffany yang keheranan pun spontan mendongakkan wajahnya. Dan saat Tiffany menatap wajah orang itu, Tiffany hanya melihat orang itu dengan sayu tanpa ada ‘perlawanan’ apapun.

 

 

“Buka mulutmu, kamu harus mencoba makanan ini”. Kata orang itu.

 

Tiffany masih tetap dalam diam tidak bereaksi apa-apa.

 

“Apakah rasa masakan ini tidak enak makanya kamu tidak mau memakannya?”.

 

“Mengapa kamu menangis?, apakah karena rasa masakan ini yang tidak enak makanya kamu sedih?”. Cerca orang itu tanpa menerima jawaban apapun dari Tiffany, tangannya masih setia berada didepan mulut Tiffany.

 

Orang itu pun memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan perlahan.

 

“Hmmm, rasanya enak. Cobalah sedikit”. Orang itu sekali lagi menyodorkan makanan kedepan mulut Tiffany.

“Kalaupun harimu buruk, setidaknya masukkanlah sedikit makanan kedalam mulutmu agar besok kamu bisa memperbaiki hari burukmu ini”. Lanjut orang itu.

 

Tiffany yang melihat itu pun tidak bisa berbuat banyak, akhirnya membuka sedikit mulutnya dan menerima suapan dari orang di depannya ini. Dengan masih sesenggukan dan air mata yang tetap mengalir Tiffany mengunyah makanannya dengan lambat.

 

Orang itu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan bergantian dengan menyuapi Tiffany sampai makanan di depan mereka habis.

 

“Aku akan membeli minuman untuk kita, tunggu di sini oke”. Ucap orang itu sambil pergi meninggalkan Tiffany.

 

Tiffany hanya diam melihat punggung orang itu perlahan menjauh, suasana hati Tiffany sedikit membaik mungkin karena perutnya sudah penuh atau mungkin karena alasan lain dia juga tidak paham.

 

Saat Tiffany untuk kesekian kalinya sedang sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba saja ada sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Saat Tiffany menolehkan kepalanya, matanya langsung disuguhkan dengan minuman dingin yang terlihat embun-embun di luar gelasnya menandakan kalau minuman itu masih dalam keadaan dingin.

 

“Jus cukup kan untuk siang yang panas seperti ini”. Orang itu berkata sambil menyodorkan minumannya kepada Tiffany. Tiffany pun menerimanya dalam diam.

 

Mereka pun meminum jus siang mereka dalam diam, sambil melihat-lihat sekitar mereka menikmati suasana dalam diam. Lebih tepatnya Tiffany yang diam karena orang disebelah Tiffany sedari tadi bermonolog tanpa ada balasan dari Tiffany.

 

“Apakah harimu baik hari ini?. Semua berjalan lancar kan?”. Sekali lagi orang ini mencoba peruntungannya.

 

Tapi bukannya mendapat jawaban, Tiffany malah menyandarkan kepalanya ke bahu orang itu, sambil menutup mata Tiffany menyamankan dirinya.

 

Orang itu menolehkan pandangannya ke arah Tiffany, dia memandangnya lama.

 

“Mau menceritakan sesuatu kepadaku?. Kamu sangat diam kau tahu”.

 

“Hmmmm”. Itulah kata pertama yang diucapkan Tiffany kalau itu bisa dikategorikan sebuah kata.

 

“Apakah harimu berat?. Aku memang tidak tahu ada apa dengan harimu. Tetapi yang kamu harus tahu, aku akan menemani sisa harimu dan meyakinkan kalau harimu tidak akan semakin memburuk”. Ucap orang itu dengan sebelah tangannya terulur ke wajah Tiffany dan mengelus lembut pipi Tiffany yang masih terus bersandar di pundaknya.

 

Tiffany yang mendengarnya pun mendongakkan kepalanya ke arah orang itu dan sedikit tersenyum, senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

 

“Thanks Jessi”. Tiffany pun mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Jessica menyamankan tubuhnya.

 

Orang itu yang ternyata Jessica pun membalas merengkuh pundak Tiffany erat, meyakinkan Tiffany kalau Jessica akan menjaganya dari semua hal buruk yang akan menimpa Tiffany.

 

 

 

Tbc…

 

 

 

*****

 

 

 

Heiii apa kabar?

Gimana feelnya dapet? Atau malah garing? Atau malah kalian gak dapet feelnya

 

Pendek ya kayaknya chap ini?maap maap dah ya

 

Tuh yg pngen krys selingkuh, seneng kagak hahaha gak sih emang dr awal ide ceritanya gini dan kykx kliatan bgt kok dr awal 🙂 . dan kliatanx banyak kok yg udah nebak ya.

 

Oh ya di chap ini bukan saya mau nyembunyi2in Jessica, tapi saya emang pengen nyari moment yang pas buat nunjukin kalo itu Jessica. Jadi bukan asal nunjukin itu siapa 🙂 . kalo kalian teliti, saya juga ngelakuin itu d scene pas Jessica baru ketemu sama Taeyeon. Saya cuma gak suka aja kalo nunjukin itu siapa / namanya tanpa ada moment yang pas, kesannya aneh aja buat saya.

 

Oh ya makasih bgt bgt buat yang masih trus nungguin ff ini apalagi yang setia buat komen2 dan tetep support, saya bener2 makasih bgt 🙂 . see you on next chapter 🙂 .

 

 

jeti

Love can’t reach chapter 10

Love can’t reach chapter 10

 

 

Cast :

 

– Jessica Jung

 

– Tiffany Hwang

 

– Other cast find by your self

 

 

 

Enjoy this story, many typo

 

 

****

 

Mata Tiffany dalam mode elang saat ini, kakinya sudah mengelilingi dua lantai gedung ini. Tangannya bahkan sudah membawa sekitar 4 paper bag dan Tiffany belum merasa cukup.

 

Hasratnya untuk mencari barang yang mungkin tidak terlalu dia butuhkan ingin dibelinya saat ini, dirinya sedang ingin membuat tangannya mempunyai beban berat hari ini.

 

Dia sedang berada di salah satu mall ternama di lingkungannya, awalnya dia ingin mengajak Krys oppanya untuk menemaninya tapi lagi-lagi hanya penolakan yang didapat. Memang Tiffany tidak bilang ingin mengajaknya untuk ke mall karena sudah bisa dipastikan Krys akan menolaknya, laki-laki memang tidak bisa diharapkan dalam hal menikmati waktu belanja. Memang Krys oppa tidak mengeluh saat diajak berbelanja, tapi dia akan selalu melihat kearah jam tengannya dan itu membuat Tiffany terganggu. Itu seolah Krys ingin segera pergi dari tenpat ini dan mungkin memang Krys oppa tidak nyaman dengan aktivitas belanjanya.

 

Dan saat Krys oppa menolaknya untuk alasan pekerjaan tadi, Tiffany bilang dia hanya akan berada dirumah dan memang awalnya dia ingin mengurungkan niatnya untuk mengelilingi mall ini. Tapi lihatlah dia sekarang seperti orang yang kerasukan.

 

Mengingat Krys yang selalu menolak ajaknya untuk keluar Tiffany merasa miris dengan hubungannya saat ini, hubungan mereka yang bahkan belum genap satu tahun seolah terasa hambar dirasakan. Seharusnya dalam umur hubungan yang baru sebentar itu bukankah masih terasa hangat, tapi tidak untuk mereka. Tidak ada lagi pertemuan intens antara mereka, tidak ada keinginan saling memberi kabar.

 

Krys maupun Tiffany sama-sama tidak ingin memulai, Tiffany yang awalnya selalu memulai akhir-akhir ini mulai bosan kalau hanya dia yang ‘berusaha’ sendiri. Krys oppa yang disayanginya seakan mulai menjauh darinya karena alasan pekerjaan.

 

Dalam hati Tiffany ingin menanyakan perubahan yang ada di diri Krys, tapi Tiffany selalu merasa tidak enak kalau menanyakannya kepada Krys pun perihal baju yang ditemukannya dikamar Krys tempo hari itu. Dia merasa Krys terlalu baik hati dan dia takut menyakiti hati Krys kalau menanyakan. Dia berniat ingin mencari tahu sendiri tentang semua ini tanpa menanyakan apapun pada Krys.

 

*****

 

Setelah lelah mengelilingi mall dan mendapatkan semua yang dia mau, Tiffany memutuskan untuk pulang kerumahnya. Dia benar-benar puas hari ini, walaupun berbelanja sendirian tapi Tiffany bisa memuaskan hasratnya.

 

Saat mobil Tiffany melaju di sekitar kawasan cafe, terlihat beberapa cafe yang sedang ramai pengunjung karena memang ini adalah jam makan siang.

 

Dan tiba-tiba saja perut Tiffany berbunyi seiring dia melihat orang-orang yang ada didalam cafe itu makan dengan nikmatnya. Dalam diam dia mengutuk laju kendaraan yang lambat sehingga dia bisa melihat keadaan di dalam tiap cafe-cafe dan itu semakin memperburuk rasa laparnya.

 

Terlihat beberapa orang sedang menikmati makanannya, ada juga yang hanya sekedar menikmati minuman dan cemilan ringan yang disediakan cafe-cafe tersebut. Tapi saat sekilas dia melihat ada orang yang tidak sedang menikmati apa-apa, hanya menompang dagunya tanpa ada apa-apa diatas mejanya.

 

Dalam hati Tiffany bertanya kenapa orang itu tidak memesan apa-apa dan hanya duduk saja. Saat Tiffany terus melihat orang itu, dia tersadar kalau orang tersebut bukan hanya sekedar seseorang. Tiffany mengenal orang itu, dalam diam dia terus melihat tingkah laku orang itu. Tidak lama kemudian Tiffany memutuskan untuk menghampiri orang tersebut, karena dia memang dari awal ingin makan sesuatu disalah satu cafe di tempat tersebut.

 

Saat lalu lintas memungkinkan, Tiffany membelokkan mobilnya ke arah cafe tersebut untuk memarkirkan mobilnya.

 

Setelah urusan dengan parkiran mobilnya selesai Tiffany langsung memasuki cafe, tentu saja semua tas belanjaannya tadi dia tinggalkan di mobil. Tiffany mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe, saat matanya menemukan sosok tadi yang dilihatnya yang tetap setia melihat kearah luar jendela.

 

Tiffany pun langsung menuju kearah meja orang tersebut, tak terasa saat langkah kaki Tiffany semakin mendekati orang tersebut senyum Tiffany sedikit demi sedikit semakin mengembang.

 

Saat Tiffany berdiri tepat disamping meja orang tersebut, orang itu bahkan belum menyadari ada Tiffany yang sudah berdiri di situ. Orang itu masih saja mengamati kesibukan orang-orang yang terlihat berlalu lalang di trotoar depan cafe itu, dalam diam Tiffany melihat betapa imutnya ekspresi melamun orang didepannya ini.

 

Karena tidak tahan dengan tingkah menggemaskannya orang itu, Tiffany pun langsung saja menyondongkan tubuhnya ke arah orang itu dan langsung mengecup puncak kepala orang itu kilat.

 

Tentu saja orang tersebut terkejut dengan tingkah frontal Tiffany, saat orang itu menolehkan kepalanya ke arah Tiffany. Ekspresi yang awalnya terkejut langsung berubah menjadi senyuman cerah.

 

Orang itu pun langsung berdiri dan memeluk Tiffany erat seakan bertahun-tahun tidak bertemu.

 

“Tiiiff, apa yang kamu lakukan disini?”. Tanya orang itu masih tetap memeluk Tiffany.

 

“Baru saja selesai berbelanja, Jessi”. Jawab Tiffany sambil terkekeh.

 

“Shopping??? And you don’t wanna take me?. How cruel you are”. Balas Jessica dengan muka cemberut.

 

“Hahaha, sorry. Next time, ok”. Jawab Tiffany sambil mengambil tempat duduk berhadapan dengan Jessica.

 

“Mengapa kamu tidak memesan apa-apa, Jessi?. Apakah kamu memang berniat duduk dengan gratis di sini?”. Tambah Tiffany.

 

“Hahaha, ayo pesan sesuatu. Kamu pasti juga lapar setelah waktu shoppingmu tadi”

 

Tiffany pun hanya menjawab dengan anggukan berulang-ulang.

 

 

****

 

Tidak beberapa lama pesanan mereka datang, Tiffany dengan american lunch-nya dan Jessica dengan rissoto-nya.

 

Mereka pun menikmati makan siang mereka dengan lamban, karena tiap sendokan mereka selalu diselingi dengan candaan dan sibuk mengomentari orang yang ada disekitar mereka. Bagi Tiffany hari ini sungguh sempurna, dia pikir tidak akan ada yang bisa merusak harinya asal Jessica disampingnya.

 

Sesekali Jessica menjulurkan tangannya ke arah Tiffany mengelus rambut Tiffany pelan, Tiffany terlihat imut saat sedang makan seperti ini pikir Jessica.

 

“Iya masih…ok…ok”. Kata jessica pada telfon genggamnya saat sebelumnya terlihat ada panggilan masuk dari benda itu. Jessica kembali menatap Tiffany dan melemparkan senyum, Tiffany pun membalas senyuman Jessica. Apa dia bilang, dia semakin yakin harinya tidak akan memburuk.

 

Saat mereka masih asik dengan makanan mereka, lalu tiba-tiba saja ada seorang gadis yang berhenti di samping meja mereka dan mencium pipi Jessica kilat. Tentu saja hal itu membuat Tiffany kaget, siapa yang berani menyentuh Jessicanya. Saat Tiffany mengarahkan pandangannya ke wajah gadis itu, mata Tiffany yang awalnya menajam menjadi membulat.

 

“Aku benar-benar minta maaf Jessica, bis yang aku tumpangi tidak mau berjalan cepat. Belum lagi lalu lintas gila ini”. Ucap gadis itu

 

“It’s ok Taeng, aku pikir kamu tidak jadi datang tadi”. Ucap Jessica dengan menggeser duduknya, sehingga sekarang Tiffany duduk berhadapan dengan gadis itu.

 

“Tentu aku akan datang, hanya tadi file untuk atasanku sedikit ada yang harus diperbaiki”.

 

“Maka dari itu bukankah tadi lebih baik aku menjemputmu”. Ucap Jessica merangkul bahu gadis itu dan sedikit mengelusnya.

 

“Oh, iya Taeng. Kenalkan ini Tiffany. Tiffany ini Taeyeon”. Seakan Jessica baru tersadar kalau didepannya ada orang yang sedari tadi ‘menikmati’ kedekatan mereka.

 

Tiffany dengan setengah hati menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tersenyum seperlunya. Sialan Jessica, dia bahkan berani berdekatan dengan gadis tidak jelas ini padahal jelas-jelas Tiffany ada dihadapannya. Awas saja kalau Jessica berani lebih dari ini.

 

Belum selesai Tiffany dengan pikirannya, tingkah Jessica dan Taeyeon atau apalah itu semakin membuatnya makin memanas.

 

“Apa yang kamu makan Jessica, tadinya kipikir kamu sudah pulang kau tahu”. Ucap Taeyeon dengan manja.

 

“Rissoto, kau mau mencoba. Aku punya banyak waktu jadi aku akan menunggu sampai kamu datang”. Kata Jessica sembari tangannya menyodorkan suapan untuk Taeyeon.

 

Taeyeon dengan senang hati menerima suapan dari Jessica dan tersenyum setelahnya.

 

Jessica menyuapi rissoto miliknya kepada Taeyeon terus menerus, sambil bercanda dan menggoda satu sama lain. Bahkan sampai rissoto itu tinggal sedikit. Padahal tadi rissoto itu saat bersama Jessica hanya berkurang beberapa sendok, sungguh seperti trik sulap. Sebentar dia menyuapi Taeyeon, sekarang rissoto itu sudah berkurang drastis. Memang berada didekat Taeyeon sungguh membuatnya lupa waktu, mungkin juga lupa segalanya hanya ada Taeyeon sebagai perhatiannya.

 

Sesekali Jessica membersihkan sudut bibir Taeyeon yang sedikit belepotan saat dia menyuapinya, dan juga mengusap-usap rambut Taeyeon karena dengan pintar melahap rissotonya.

 

“Mengapa hanya aku yang memakannya?, kamu pun juga”. Ucap Taeyeon menyadari hanya dia yang menikmati makanannya. Diambilnya sendok dari tangan Jessica dan sekarang bergantian Taeyeonlah yang menyuapi rissoto yang tinggal sedikit itu.

 

Dan tanpa mereka sadari sedikit pun, diseberang mereka yang bahkan masih dalam meja yang sama. Ada seseorang yang sudah mengeluarkan api dari kedua matanya. Bahkan sejak Taeyeon atau siapapun itu baru datang sampai sekarang sudah membuat Tiffany ingin mengumpat ke arah wajah perempuan yang tidak tahu malu itu.

 

Bagaimana bisa dia bermanja-manja kepada Jessica sedangkan orang yang berhak untuk menyentuh Jessica hanyalah Tiffany. Taeyeon yang hanya orang baru bisa-bisanya berdekatan dengan Jessica sedekat itu, benar-benar tidak tahu posisinya kalau dibandingkan dengan Tiffany yang sudah mengenal Jessica bahkan sejak Jessica belum bisa menyebut huruf R.

 

Bahkan dengan lancangnya Taeyeon menyuapi Jessica dengan tangan kurusnya itu, apakah dipikirannya itu Jessica lumpuh atau bagaimana sehingga harus butuh disuapi. Kalaupun Jessica tidak bisa makan dengan tangannya, yang berhak menyuapinya hanyalah Tiffany, bukan yang lain. Tiffany yakin kalau rissoto itu menjadi pahit dengan tiba-tiba saat Taeyeon yang menyuapi.

 

Jessica pun juga apakah tangan Jessica itu tidak punya malu sampai-sampai menaruh tangan kirinya dipundak Taeyeon, bahkan saat menyuapi Taeyeonpun tangan kirinya itu tidak mau lepas. Tiffany penasaran apakah disana ada pelekat atau semacamnya, kalau iya Tiffany akan melekatkan tangan Jessica dengan tangan Tiffany saja.

 

Bagaimana bisa Jessica menyentuh gadis lain saat Tiffany ada didepannya, yang membuatnya lebih ingin meledak adalah Jessica.tidak.memandang.Tiffany.sama.sekali.

 

Demi tuhan Jessica bahkan tidak mengarahkan pandangannya sama sekali kearah Tiffany. Tiffany curiga apakah Jessica bahkan menyadari kalau Tiffany meninggalkan meja ini dan memilih pulang, mungkin saja Jessica bahkan akan lupa kalau Jessica tadi sedang makan dengan dia sebelumnya.

 

Sungguh dua perempuan di depannya ini benar-benar membuatnya muak, mereka bermesraan seolah Tiffany memiliki kekuatan menghilangkan tubuh atau semacamnya. Demi tuhan Tiffany sedang ada di depan mereka berdua dan Tiffany kehilangan nafsu makannya sama sekali padahal jelas-jelas Tiffany tahu bagaimana laparnya dia tadi.

 

Muak dengan kedua orang itu, akhirnya Tiffany memilih meneguk ice americano-nya saja. Saat Tiffany akan meraih minumannya, entah kenapa tangan Tiffany terlalu bertenaga saat mengambil minuman itu. Jadi bukannya menggapai minumannya, Tiffany malah mendorong minuman itu.

 

Dan….ups, seperti halnya sihir. Minuman yang masih banyak dan potongan es yang masih penuh itu pun tumpah dan terdorong agak ke seberang meja yang sangat kebetulan sekali ada Taeyeon yang duduk di hadapan Tiffany.

 

“Oh ya ampun aku minta maaf, Taeyeon. Tanganku tergelincir tadi”. Ucap Tiffany dengan wajah menyesal. Taeyeon pun otomatis berdiri saat minuman itu tumpah ke bajunya.

 

“Tidak apa-apa Tiffany”. Jawab Taeyeon sambil tersenyum kilat, tangan Taeyeon masih sibuk mengusap-usap bajunya yang basah itu.

 

“Aku benar-benar menyesal Taeyeon, maafkan kecerobohanku”. Ucap Tiffany lagi masih dengan wajah tidak enaknya.

 

“Tidak apa, setidaknya aku tahu bagaimana segarnya minumanmu tanpa aku mencicipinya”.

 

“Sepertinya aku harus ke toilet dulu”. Tambah Taeyeon sembari berjalan.

 

“Aku ikut Taeng”. Jessica akhirnya berucap dan mengikuti langkah Taeyeon.

 

 

***

 

Setelah beberapa lama Taeyeon dan Jessica pun kembali.  Saat Taeyeon melewati Tiffany, Tiffany mencium aroma parfum Taeyeon sekilas yang masih tercium aroma americanonya disana dan sedikit aroma yang familiar disana. Mungkin seperti aroma parfum teman-teman kampusnya batin Tiffany, tapi Tiffany tidak memikirkannya lebih jauh.

 

Jessica pun menyusul dari belakang Taeyeon dengan santai.

 

“Kami akan pulang dulu Tiff, Taeyeon harus mengganti bajunya”. Ucap Jessica saat sudah berada di mejanya sambil meraih tasnya.

 

“Aku sudah membayar makanan kita, lanjutkan saja makanmu”. Sambung Jessica.

 

“Ok Jessie, aku benar-benar menyesal pertemuan pertama kita berakhir seperti ini Taeyeon”. Ucap Tiffany pada keduanya.

 

“Tidak apa, lain kali kita bisa bertemu bertiga lagi”. Jawab Taeyeon sambil mengibas-ngibaskan bajunya masih basah.

 

“Ok Tiff, lain kali aku akan main kerumahmu. Kami duluan ya”. Kata Jessica sambil mengecup pipi Tiffany kilat dan melangkah keluar dari cafe itu dengan Taeyeon.

 

Tiffany pun masih menatap mereka berdua sampai sosok mereka menghilang. Seharusnya hanya Taeyeon saja yang pulang kenapa harus Jessica pun juga ikut, percuma saja dia mendorong minumannya yang masih belum tersentuh tadi. Niatnya untuk mengusir Taeyeon malah berakhir dengan dia yang sendirian lagi sekarang.

 

Dengan menggebu Tiffany menyendok makanannya dengan kasar, seakan yang dia makan bukanlah makanan tetapi Jessica. Dia sangat ingin memakan Jessica hidup-hidup sekarang, untung saja Jessica tadi sempat mengecupnya sekilas. Kalau tidak, saat Jessica melangkah pergi tadi Tiffany akan langsung menarik rambut Jessica dan menyuruh Jessica tetap disampingnya.

 

 

 

 

Tbc….

 

 

****

 

 

Heiii apa kabar?

Tuh taenysic udah ketemu, gimana feelnya? Dapet enggak. Maap kalo ceritanya hambar

 

Gak terasa udah sampai di chapter 10 🙂 , makasih ya yang selalu dan terus terus komentar dan tetep support wp abal2 ini dan selalu kasih masukan yang membangun.

 

Saya selalu menghargai semua reader yang setia komentar bahkan dari chapter 1, saya lagi mikir aja gimana caranya berterima kasih bukan hanya omongan ‘makasih’ aja tapi ada bentuk nyata.

 

Sekali lagi terima kasih:-) 🙂

 

jeti

Love can’t reach chapter 9

Love can’t reach chapter 9

 

Cast :

 

– Jessica Jung

 

– Tiffany Hwang

 

– Other cast find by your self

 

Enjoy this story, many typo

 

****

 

 

Tiffany benar-benar harus mencari tahu tentang pemilik baju Ini, yang dia yakin bukan milik Jessica. Dia ingin tahu apa alasan Krys dibalik ini semua, niatnya untuk menemui Krys bahkan sekarang membuat hatinya tidak karuan. Bagaimana kalau Krys ternyata selingkuh dibelakangnya, bagaimana kalau ternyata selama ini Krys tidak tulus terhadap dirinya.

Baginya Krys adalah orang yang baik, dia yang selalu memahami dan menerima apapun keadaan Tiffany. Krys bahkan tidak pernah marah kepada Tiffany. Dan kalau ternyata Krys bermain dibelakangnya, Tiffany mungin tidak akan bisa memahami lagi arti dari sebuah kebaikan.

Saat orang sebaik Krys bisa berbuat curang, entah siapa lagi yang bisa Tiffany percaya saat satu persatu orang yang dekat dengan dia bergantian membuatnya kecewa. Mungkin pada saat itu, dia harus memikirkan ulang sejauh mana kebaikan itu dapat diukur.

Tiffany mencoba mencari bukti-bukti lain yang bisa didapat dari kamar Krys, yang mungkin dia bisa menemukan keanehan lain selain baju itu. Tapi Tiffany tidak mendapatkan apapun. Mungkin saat ini dia tidak mendapatkan apa-apa tapi dia berharap bisa mendapatkan bukti dilain waktu. Entah nanti hasilnya baik atau buruk untuknya, dia akan tetap mencarinya.

****

Tiffany keluar dari kamar Krys, dia langsung menuju ke arah dapur karena mommy Jung berkata cakenya sudah selesai dan siap disantap.

“Makanlah ini Tiff selagi hangat, cake hangat selalu yang terbaik”. Ucap mommy Jung.

“Iya mom, terima kasih atas makanannya”. Balas Tiffany sambil mengambil sendok bersiap mencicipi potongan cake mereka.

Tepat saat suapan pertama Tiffany akan masuk kedalam mulutnya, terdengar langkah kaki dari arah ruang tengah. Tiffany tau persis suara langkah kaki siapa ini, dia hafal betul pola ketukan yang dihasilkan oleh kaki orang ini. Samar-samar dapat tercium aroma parfum dari orang itu dan aromanya bahkan tidak pernah berubah, Tiffany selalu menyukai parfum orang itu.

“Mom, sepertinya mom sedang membuat sesuatu yang lezat ya. Aromanya tercium sampai ke ruang tamu mom”. Ucap orang tersebut.

“Tentu, kamu datang tepat waktu. Cakenya masih hangat, ayo bergabung dengan Tiffany juga”.

Seketika itupun langkah orang tersebut terhenti, langkah santainya sekarang tidak terdengar. Tiffany pun masih tidak berani menolehkan kepalanya ke arah orang tersebut.

Orang itupun juga tidak tau harus berbuat apa, dia ingin sekali saat ini juga melompat kepelukan Tiffany. Setengah tahun lebih tidak berdekatan dengan Tiffany seolah sesuatu dalam dirinya menghilang, dan memang sesuatu itu mungkin memang menghilang.

Dia ingin sekali bersandar di bahu Tiffany sambil menceritakan hari-harinya tanpa Tiffany, dia sangat ingin sekali melakukannya. Namun suara Tiffany membuyarkan lamunannya.

“Duduklah disebelahku, Jessi”. Ucap Tiffany dengan ragu. Dia hanya tidak ingin membuat mommy Jung berpikir macam-macam tentang keadaannya dan Jessica, bagaimanapun dia selalu menganggap mommy Jung sebagai mommynya sendiri.

“Emm, apakah mommy membuatnya sendiri?”. Tanya Jessica kepada mommy Jung sambil duduk disebelah Tiffany, Jessica dengan tidak nyaman duduk. Beberapa kali dia memperbaiki posisi duduknya seolah ada kerikil-kerikil kecil berada ditempat duduknya.

“Bukan cuma mom, aku juga ikut membantu mom membuat cakenya. Kamu harus mencobanya”.ucap Tiffany berkata dengan pelan.

“You are?, hahaha jangan bercanda Tiff”. Jessica jelas-jelas tahu Tiffany dan dapur bukanlah sesuatu yang bisa berteman.

“Heeii, aku memang membantu mom. Kamu tidak asik Jessi”. Kata Tiffany memalingkan wajahnya kearah lain sambil menyedekapkan tangannya. Jessica memang tidak bisa diandalkan, dia selalu berpikir Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa.

“Hahaha iya iya, aku percaya. Tiffany yang sekarang sudah menjadi seorang wanita”. Ucap Jessica sambil memasukkan sesendok cake kedalam mulutnya.

“Huumm, ini enak sekali. You must try it”. Tambah Jessica sambil menyodorkan sendokan cake untuk Tiffany. Tiffany yang semula masih kesal sekarang menjadi sedikit bingung harus berbuat apa, otaknya masih kosong karena perhatian Jessica yang tiba-tiba.

Melihat Jessica yang sekarang sudah tidak terlalu dingin lagi kepadanya membuat dia rasanya ingin menangis. Tiffany pelan-pelan memajukan badannya sambil membuka sedikit mulutnya mencicipi cake dari Jessica. Dan memang benar rasanya memang enak.

“Hei hei, kenapa kamu menangis, aku kira rasanya enak. Apa aku menyakitimu Tiff?”. Ucap Jessica panik karena sekarang Tiffany mengeluarkan air mata.

Tiffany yang bahkan tidak sadar sedang menangis pun bingung dengan dirinya, dia menyeka air matanya dan memang benar air matanya masih tidak mau berhenti.

“Aku..aku hanya lega karena rasa cake ini tidak hancur walaupun aku ikut membuatnya”. Ucap Tiffany asal. Entahlah, Tiffany benar-benar bahagia saat ini.

“Hahaha, kalaupun rasanya aneh aku akan tetap memakan cake langkah ini. Selama ini kamu tidak pernah membuatkan aku satupun kan?”. Balas Jessica mencoba menenangkan.

“Kamu benar Jessi, aku memang orang yang buruk. Aku tidak pernah membuatmu senang, aku memang egois”. Kata Tiffany bahkan dengan tangisan yang sekarang terdengar dan suaranya pun semakin tersendat-sendat.

Jessica benar-benar bingung, niatnya ingin menenangkan Tiffany sekarang bahkan membuahkan tangisan yang semakin menjadi. Tiffany bukannya tenang bahkan terlihat semakin kalut, Jessica perlahan mengutuk cake bodoh ini yang membuat suasana memburuk.

Tetapi dalam hati Jessica memang merasa beruntung dapat mencicipi cake buatan Tiffany, selama ini Tiffany memang tidak pernah membuatkan sesuatu dari tangannya. Tiffany cenderung memberikan sesuatu yang di dapat dari membeli bukan buatannya sendiri seperti ini. Dan Jessica merasa kalau dia sekarang seperti mendapatkan kado ulang tahunnya lebih awal.

Persetan dengan hatinya yang akan sakit hati dengan keadaan ini yang terpenting saat ini dia merasa nyaman dengan situasi sekarang ini, entah apa yang terjadi setiap Jessica melihat Tiffany menangis seperti ini hatinya pun ikut hancur. Jessica mungkin masih kebingungan dengan adanya Tiffany dan Taeyeon saat ini, tapi bolehkan dia menikmati saatnya dengan Tiffany walaupun hanya sekedarnya.

Perlahan tangan Jessica terulur ke arah wajah Tiffany, dihapusnya air mata yang masih terus turun di pipi Tiffany. Pandangan mata Jessica fokus pada air mata yang terus dihapusnya tidak menyadari keterkejutan Tiffany, Tiffany bahkan sekarang menahan nafasnya. Takut-takut Jessica akan menyadari degup jantung kerasnya, berharap dengan menahan nafas dia bisa meredakan degup jantungnya walaupun hasilnya nihil.

Perlahan jemari Jessica beralih ke sudut bibir Tiffany yang memang masih ada air mata disitu, jemari Jessica seakan bergerak sendiri. Lama jemarinya terus mengusap-usap sudut bibir Tiffany, pandangan mata Jessica pun tetap tertuju pada sudut bibir Tiffany seakan Jessica ingin menghafalkan bentuk bibir Tiffany.

Dan seperti otaknya memang tidak mempunyai kendali pada tubuhnya, kepala Jessica menunduk perlahan kearah pipi Tiffany. Perlahan-lahan tubuh Jessica yang semakin dekat kearah Tiffany, bibir Jessica perlahan menempel di pipi Tiffany. Lebih tepatnya di sudut bibir Tiffany, sangat dekat bahkan bibir Jessica bersentuhan dengan ujung bibir Tiffany.

Cukup lama bibir Jessica mengecup sudut bibir Tiffany, Jessica perlahan melepaskan kecupannya dan perlahan menjauhkan tubuhnya dari Tiffany dan duduk di tempatnya semula.

“Kamu adalah orang paling baik yang pernah aku temui, maaf selama ini mengabaikanmu. Aku harap kita masih bisa kembali seperti dulu, aku berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi”. Ucap Jessica sambil mengusap-usap ujung kepala Tiffany lembut. Beruntung mommy Jung yang sedari tadi sudah meninggalkan dapur jadi beliau tidak perlu melihat drama ini.

Tiffany tidak bisa berkata apa-apa, dia benar-benar kehabisan kata. Jessica sudah berhasil membuat jantungnya berdegup sangat cepat dan kata-kata Jessica barusan mampu menjawab doa-doanya. Dia tidak akan meminta banyak, walaupun hanya seperti ini tapi Tiffany sudah cukup bersyukur dengan Jessica tidak mengabaikannya lagi.

Tbc

Heeeiii apa kabar kalian?? Baik??

Tuh jeti udah ketemu, baikan pula..seneng kagak:-)

Gimana feelnya?? Dapet enggak?

Chapternya pendek? Hahaha sabar ya kadang saya juga mau ngepas-in alur yg berjalan biar gak tumpang tindih aja:-)

Tapi saya selalu usahain buat rutin update, makasih yg selalu tetep mau support wp saya yg kecil ini dengan cerita yg datar2 aja:-)