Uncategorized

Nice trip

 

 

 

Matahari terlihat telah berada di atas langit yang sedang berwarna jingga hari ini, sedikit menyingsing. Tetapi tidak mengurangi rasa panas yang terasa pada udara sore itu.

 

Seperti halnya yang dirasakan Jesse sore ini, saat dia sedang ada pekerjaan yang mengharuskannya keluar kota. Entah mengapa dia harus berangkat sesore ini, atau salahkan saja dirinya yang mempunyai kebiasaan bangun tanpa alarm. Dia lebih memilih menggunakan alam bawah sadarnya untuk membangunkan dirinya, dan itu tentu saja tidak banyak membantu.

 

Untung saja Jesse tidak dalam situasi yang mengharuskannya untuk buru-buru, tetapi hal ini sungguh membuat moodnya hari ini sungguh buruk.

 

Bagaimana tidak, saat kamu sedang berada di sebuah tempat yang sangat ramai, bahkan cenderung penuh. Apalagi dalam kondisi yang kegerahan seperti ini, bagaimana bisa kamu untuk mempunyai mood yang bagus. Itu adalah suatu hal yang mustahil.

 

Saat tangan Jesse sedang sibuk mengipasi dirinya untuk mencari udara dingin, saat itu juga bus yang Jesse tunggu-tunggu datang. Jesse dengan berlari-lari kecil pun dengan cepat mendatangi bus itu, berusaha menggapai pintu bus yang sudah dipenuhi orang-orang yang juga ingin menaiki bus itu.

 

Saat Jesse sudah menaiki bus itu, dia mengedarkan pandangan matanya kepenjuru bus itu. Mencoba mencari tenpat duduk yang masih kosong, terlihat beberapa tempat duduk sudah dipenuhi oleh penumpangnya.

 

Jesse pun langsung menduduki tempat duduknya saat pandangannya menemukan tempat duduk yang pas, tentunya setelah meletakkan tas ranselnya di sekat yang sudah disediakan. Jesse memilih untuk duduk di dekat jendela, Jesse berpikir mungkin bagus saat dia dapat melihat jalanan yang ada disekitarnya nanti.

 

Saat Jesse mengedarkan pandangannya ke sekitar bus, terlihat tempat duduk yang hampir penuh. Hanya tersisa beberapa tempat duduk, itupun tidak ada yang berjajar. Terpisah satu sama lain.

 

Perhatian Jesse teralihkan saat ada sebuah tepukan pada pundaknya, saat Jesse mengalihkan pandangannya terlihat seorang wanita menggendong anaknya dan seorang laki-laki di sebelahnya.

 

“Maaf, boleh tidak anda pindah ke tempat duduk sana, supaya saya bisa duduk dengan suami saya berjajar?”. Tanya si wanita itu sambil menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari Jesse duduk.

 

“Saya akan kesulitan kalau saya berjauhan dari suami saya, anak saya mungkin akan mencari-cari ayahnya”. Sambung si wanita itu saat Jesse hanya memandanginya saja.

 

Jesse yang sekilas berfikir pun hanya bisa menggelengkan kepalanya

 

“Maaf saya tidak bisa, saya ingin duduk di sini”. Jawab Jesse.

 

“Tolonglah saya, saya benar-benar akan kesulitan”. Kata si wanita itu tetap mencoba.

 

Jesse pun mengulangi gelengannya, pertanda dia masih tidak mau. Bukankah Jesse sudah bilang kalau dia dalam kondisi mood yang buruk hari ini.

 

Apalagi ditambah dengan pasangan yang memintanya pindah, itu tandanya dia juga harus memindahkan barang-barangnya juga. Sungguh Jesse hanya ingin duduk diam menikmati perjalanannya saja.

 

Sang suami pun terlihat membisikkan sesuatu ke istrinya, dan terlihat sang istri seperti keberatan dengan ucapan sang suami walaupun tetap mengiyakannya. Dan sang suami pun berjalan ke tempat duduk yang kosong yang berjarak dua bangku dibelakang tempat duduk Jesse.

 

Dan sang istri dengan muka ditekuk pun memilih duduk di samping Jesse, memang tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa karena mereka yang sempat bernegosiasi itu. Membuat tempat duduk yang sempat kosong pun sudah terisi.

 

Si wanita yang dengan memangku anaknya yang berusia sekitar dua tahunan, entahlah Jesse tidak terlalu memperdulikannya. Yang Jesse tahu saat si wanita duduk, sebagian kaki si anak dengan tidak sopannya menindih paha Jesse. Yang sepertinya punya ikatan batin yang kuat dengan si ibu, mungkin sang anak juga ikut kesal dengan Jesse.

 

Bus pun perlahan berjalan perlahan meninggalkan terminal, untung saja Jesse memilih bus berpendingin. Jadi saat bus melaju, suhu di dalam bus perlahan mulai turun. Membuat mood Jesse perlahan membaik.

 

Sudah satu jam Jesse duduk dalam diam, Jesse yang merasa bosan pun memilih memejamkan matanya. Berharap waktu dapat terlewati dengan lebih cepat. Karena kota yang akan Jesse tuju memang memerlukan waktu sekitar 8 jam. Sungguh kalau Jesse mempunyai pilihan lain mungkin Jesse akan memilih berkendara dengan pesawat atau kereta saja.

 

Tapi apadaya, uang saku yang dia punya terbatas. Jadi dia harus bisa berbagi dengan makanan yang ingin dia beli nanti. Saat Jesse merasa matanya mulai berat, maka Jesse pun tidak mencoba untuk melawan kantuk yang datang.

 

****

 

Saat Jesse perlahan membuka matanya, terlihat dari jendela kalau langit sudah mulai petang. Pun di dalam bus lampu-lampu yang berada pada bagian tengah sudah mulai menyala.

 

Jesse yang memang mengantuk pun tidak ingin bergerak dalam duduknya, pun dia tidak ada ruang yang cukup untuk bergerak. Belum lagi wanita yang ada di sebelahnya ini semakin memakan tempat saja. Jesse ingin memanggilnya ibu-ibu, tetapi dengan wajah dan badan yang bagus. Pikiran Jesse tidak mau mengakui kalau dia sudah mempunyai anak.

 

Lihat saja, dengan mata kembali terpejam pun Jesse dapat merasakan kalau kaki si anak makin menindih paha Jesse. Dengan kesal pun Jesse membuka mata dan menoleh ke arah si wanita ini, berniat untuk memprotes kelakuan anaknya.

 

Tapi saat Jesse mengalihkan pandangannya ke arah sang wanita, yang didapati Jesse adalah si wanita yang sedang memejamkan mata. Tanpa ada anaknya yang berada di pangkuannya, sungguh Jesse heran. Bagaimana bisa pahanya merasakan beban saat anak si wanita itu tidak dalam pangkuannya.

 

Dan pandangan mata Jesse pun beralih ke arah paha milik Jesse, dan yang dilihatnya adalah tangan kiri sang wanita yang berada pada paha Jesse. Karena memang Jesse yang duduk di sebelah kiri si wanita ini.

 

Dan saat Jesse menyadari posisi duduk mereka yang merapat bahkan cenderung saling menindih tangan satu sama lain, Jesse pun sedikit tidak nyaman dengan itu. Bukan karena Jesse tidak suka, karena entah mengapa Jesse merasa pas dengan posisi mereka saat ini. Tetapi menyadari dia sedang berdekatan dengan wanita mempesona yang sudah mempunyai suami, apalagi dengan tangan sang wanita yang berada di atas pahanya membuat pikiran Jesse berkeliaran.

 

Saat Jesse mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, mencoba mengusir ketidak nyamanan yang dirasakannya. Tanpa ada niatan untuk melepaskan tangan yang berada di atas pahanya.

 

Dalam hati Jesse berfikir mungkin anak si wanita itu, mungkin berada di ayah si anak itu jawab Jesse dalam hati.

 

Jesse yang lamunannya pun harus dibuyarkan karena tanpa disangka mendapat remasan dari pahanya itu pun seketika terkesiap.

 

Dengan seketika dia mengalihkan pandangannya ke arah sang wanita yang sekarang terlihat sedang membuka matanya tetapi dengan pandangan yang lurus kedepan. Jesse yang tadinya mengira kalau sang wanita sedang mengigau atau apa kini pun merasa kalau sang wanita sedang dalam keadaan yang memang sedang ingin melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nyawa mereka berdua.

 

Lambat laun, remasan di paha Jesse pun berubah menjadi elusan. Elusan naik turun, dilakukan dengan lambat dan berperasaan. Membuat kepala Jesse menjadi pening perlahan, begitu juga kepala bagian bawahnya.

 

Elusan pun berubah lagi menjadi remasan-remasan yang semakin lama semakin membuat gairahnya naik perlahan. Padahal ini hanya sebuah remasan yang biasa saja, tetapi untuk Jesse. Itu dapat membunuhnya perlahan.

 

Dengan otak yang semakin hilang daya pikirnya, Jesse pun dengan cepat meraih tangan sang wanita dan meletakan tangannya tepat di kemaluan Jesse. Dan sedikit meremas tangan sang wanita agak kemaluannya juga ikut teremas. Sungguh saat kemaluannya mendapat remasan paksa itu, tekanan pada penis Jesse terasa sampai ke kepalanya.

 

Jesse dengan masih memegangi tangan halus sang wanita itu pun masih meremas-remas tangan sang wanita untuk memberitahu ritme remasan yang diinginkan Jesse.

 

Kepalanya sudah tidak dapat berpikir lagi dimana sekarang mereka berada atau bahkan suami sang wanita yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Yang Jesse tahu adalah sekarang penisnya semakin menegang dan kepalanya yang semakin berdenyut.

 

Tarikan nafas Jesse perlahan semakin pendek-pendek, menandakan hasrat Jesse yang semakin membesar bahkan karena wanita yang Jesse bahkan tidak mengenalnya.

 

Jesse yang semakin tidak tahan akan remasan yang tetap dilakukan oleh wanita yang sedari tadi tangannya sudah tidak dipegangi oleh Jesse itu. Akhirnya meraih tangan sang wanita itu lagi dan meremasnya, seolah menyalurkan gairah yang dirasakan oleh Jesse. Jesse melihat ke arah sang wanita yang pandangannya masih menatap lurus kedepan seakan tidak ada yang terjadi.

 

“Nama…siapa?”. Ucap Jesse dengan nafas tersedat-sendat.

 

“Tiffany… Namaku”. Ucap sang wanita dengan wajah merunduk menahan malu, kalau saja suasana bus tidak redup seperti sekarang mungkin saja Jesse dapat melihat rona merah pada wajah Tiffany.

 

Mereka yang berbicara berbisik-bisik pun Jesse menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat suami Tiffany, Jesse bernafa lega saat tahu sang suami sedang tertidur dengan anaknya dalam pangkuannya.

 

Genggaman tangan yang semula hanya remasan kini berubah menjadi elusan. Ibu jari mereka pun saling mengelus punggung tangan satu sama lain.

 

Pandangan mata yang tidak berani saling beradu, hanya bisa saling mencuri pandang agar orang sekitar tidak ada yang menyadari.

 

Jesse dengan tiba-tiba melepas genggaman pun membuat Tiffany sedikit kecewa, dengan santai Jesse berdiri mengambil jaket dari tasnya dan duduk kembali. Jesse memakai jaketnya tetapi hanya menempelkannya ke bagian depan tubuhnya seakan dia sedang kedinginan, Tiffany yang melihat itu pun hanya bisa mengerutkan alisnya.

 

Tetapi dengan tidak dipahami oleh Tiffany, Jesse dengan segera memberi Tiffany jaket milik Jesse yang lain.

 

“Pakai…”. Kata Jesse lirih.

 

Tiffany pun melakukan hal yang sama seperri yang dilakuan Jesse, setelah Tiffany melakukannya. Tiffany yang masih tidak mengerti fungsi jaketnya ini, karena memang dia tidak merasa kedinginan. Tiba-tiba saja tanpa disadarinya, tangan Jesse sudah menyusup pelan ke dalam jaket Tiffany. Dengan perlahan tangan Jesse meraba-raba dada Tiffany, mencari-cari tempat yang diinginkan tangannya.

 

Saat Jesse menemukan payudara Tiffany, perlahan Jesse hanya meraba-raba payudara Tiffany pelan. Lambat laun rabaan berubah menjadi remasan lembut, terasa dada Tiffany yang naik turun menahan hasrat. Tentunya dengan pandangan mata mereka yang tetap lurus, seakan mereka tidak memperdulikan satu sama lain

 

Saat beberapa lama Tiffany yang mungkin saja kesadarannya kembali, tiba-tiba saja menyentakkan tangan Jesse yang berada di payudaranya. Jesse yang menyadari perlakuan Tiffany pun tentu saja terkejut dengan itu, tetapi Jesse sadar akan keadaan mereka.

 

Jesse perlahan meraih tangan Tiffany dan menariknya lembut kearah bibir Jesse dan mengecupnya lembut, mencoba memberi kepercayaan kepada Tiffany.

 

Tiffany yang seakan terpesona dengan perlakuan lembut Jesse, yang memang tidak pernah dilakukan oleh suaminya. Seakan otaknya kembali kosong, tidak ada kemampuan lagi untuk berpikir tentang apa yang terjadi.

 

Melihat Tiffany yang tidak lagi menolak dengan perlakuannya, tangan Jesse pun mengarah ke arah bagian bawah tubuh Tiffany. Dengan perlahan tangan Jesse mengarah kearah bagian selangkangan Tiffany, dengan tubuh tetap setegap mungkin. Agar orang lain tidak ada yang curiga.

 

Tangan Jesse perlahan megelus-elus paha Tiffany, mencoba membalas apa yang dilakukan oleh Tiffany tadi kepadanya. Memberitahu bagaimana frustasinya Jesse dengan apa yang terjadi tadi, Jesse mengelus paha Tiffany naik turun dengan ritme lambat.

 

Tangan Jesse yang awalnya hanya meraba, pun berpindah meraba pada paha bagian dalam Tiffany. Tiffany yang merasakannya pun tiba-tiba terkesiap, Tiffany tidak siap dengan apa yang dilakukan Jesse. Tiffany tidak pernah siap, walaupun Tiffany yang awalnya menggoda Jesse dengan bodohnya. Tetapi entah bagaimana Tiffany tidak dapat menahan saat ada orang tampan duduk begitu dekat dengan dirinya.

 

Tangan Jesse dengan nakal terus saja meraba-raba paha dalam Tiffany tanpa memperdulikan nafas Tiffany yang semakin tersendat. Dan bodohnya Tiffany menggunakan setelah terusannya sebatas lutut, sungguh Tiffany yakin itu dapat sangat mempermudah Jesse.

 

Dengan perlahan jemari tangan Jesse pun mencoba membuka paha Tiffany yang masih merapat. Sungguh pertahanan Tiffany membuat Jesse ingin memaki betapa sulitnya Tiffany untuk didapatkan.

 

Perlahan paha Tiffany membuka sedikit demi sedikit, terdengar helaan nafas dari Jesse. Dengan hati-hati, Jesse pun membelai pangkal paha milik Tiffany yang masih memakai celana dalam.

 

Jesse meraba, mengelus, dengan sedikit cubitan disana. Tiffany yang hanya bisa menahan erangan pun memilih menggigit bibir bawahnya.

 

Dengan hati-hati Jesse pun sedikit menyingkap celana dalam yang dipakai Tiffany tanpa menurunkannya. Hanya menyingkap bagian bawahnya saja, Jesse tidak ingin direpotkan dengan hal-hal remeh disaat genting seperti ini.

 

Jesse membelai pangkal paha Tiffany lembut, sungguh berbeda saat Jesse membelainya langsung seperti ini. Tidak terhalang oleh celana dalam milik Tiffany.

 

Jesse membelainya naik turun, saat Jesse ingin memasukkan jari telunjuknya ke lubang vagina milik Tiffany. Jesse mencari-cari lubang Tiffany tetapi Jesse sedikit kesulitan.

 

Tiba-tiba saja tangan Tiffany meraih jemari Jesse dan mengarahkannya ke lubangnya. Tiffany tidak dapat menahan lebih lama lagi untuk merasakan kenikmatan yang lebih.

 

Saat perlahan jemari Jesse masuk ke dalam vagina Tiffany, terdengan erangan lirih dari Tiffany. Jesse pun memasukkan jemarinya sedalam yang dia bisa, sampai jemarinya tenggelam di vagina Tiffany.

 

Perlahan Jesse menarik jemarinya pelan dan memasukkannya lagi dalam. Sungguh jemarinya terasa hangat di sana. Belum lagi vagina Tiffany yang masih sempit walaupun sudah mempunyai satu anak. Mungkin saja dia merawat vaginanya, dalam hati Jesse sungguh iri dengan kenikmatan yang didapat oleh suami Tiffany.

 

Jesse yang mendengar erangan tertahan dari Tiffany pun semakin mempercepat gerakan jarinya. Jesse ingin menyenangkan Tiffany, wanita yang bahkan Jesse baru bertemu.

 

Jesse menambah satu jarinya ke dalam vagina Tiffany, nafas Tiffany pun semakin tersengal. Jesse mempercepat gerakannya. Terasa vagina Tiffany yang menyempit, menjepit dua jari Jesse yang masih berada di dalamnya. Dan buyarlah pertahanan Tiffany, saat lelehan cairan kenikmatan menghangatkan jemari Jesse yang berada di vaginanya.

 

Saat nafas Tiffany yang masih memburu menikmati orgasme yang tidak pernah terbayang dalam pikirannya. Orgasme bukan atas perbuatan suaminya, melainkan dari lelaki tampan asing di sebelahnya.

 

Jesse pun perlahan menarik tangannya dari pangkal paha mulus Tiffany. Sungguh Jesse mereasa bangga pada dirinya, dapat membuat wanita orgasme hanya dengan jemarinya. Bagaimana kalau misalnya penisnya sudah bermain andil, pasti Tiffany berteriak-teriak.

 

 

Jesse pun meraih jemari Tiffany dan mengecupnya lembut.

 

“Kamu sangat cantik”. Ucap Jesse tanpa berpikir, Tiffany yang mendengarnya pun semakin merona wajahnya. Sungguh Jesse tidak ada henti-hentinya membuat Tiffany malu, belum lagi perbuatan Jesse yang mengocok vaginanya tadi.

 

 

Saat pandangan Jesse tertuju pada penisnya, Jesse menyadari betapa kerasnya penisnya kini. Jesse sampai kesakitan dibuatnya, tetapi Jesse cukup senang saat melihat wajah orgasme Tiffany tadi. Dan Jesse merasa cukup.

 

Tiffany pun melihat arah pandang Jesse, betapa tonjolan penis Jesse membuatnya kasihan kepada Jesse. Pasti Jesse juga menahan gairah yang sama sepertinya tadi.

 

“Perhatikan sekitar”. Ucap Tiffany cepat.

 

Tiffany dengan cepat meraih resleting celana Jesse dan mengeluarkan penis Jesse.

 

Dengan gerakan cepat Tiffany menunduk dan segera memasukkan penis keras Jesse ke dalam mulutnya utuh. Saat penis Jesse masuk ke dalam mulutnya, mulut Tiffany terasa sangat penuh. Bahkan penis Jesse tidak seluruhnya masuk.

 

Jesse yang pikirannya masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pun hanya bisa mengerang, dan seketika menoleh ke sekitar yang terlihat semua orang yang masih dalam lelapnya.

 

Tiffany pun menaik turunkan kepalanya untuk mengocok penis Jesse yang berada di dalam mulutnya, sungguh yang berada di pikiran Tiffany saat ini adalah membalas perlakuan ‘baik’ Jesse padanya.

 

Sesekali lidah Tiffany menjilat, memutar-mutarkan lidahnya di sekeliling penis keras Jesse yang uratnya bahkan terasa. Menandakan Jesse yang memang sudah sangat mengeras, perlahan Tiffany tersenyum di antara kocokannya itu.

 

Kepala Tiffany semakin lama semakin cepat gerakan naik-turunnya, belum lagi Jesse yang membantu mempercepat gerakannya dengan memegangi rambut Tiffany dan ikut menaik-turunkan kepala Tiffany.

 

 

Saat penis Jesse yang terasa berkedut pelan, makin lama semakin sering kedutan itu. Tiffany semakin bergairah untuk mempercepat gerakannya.

 

Dan benar saja, cairan Jesse pun perlahan keluar di antara kedutan-kedutan yang berasal dari penisnya. Tiffany yang merasakan itu bukannya menarik kepalanya, tetapi malah memegangi penis Jesse agar tetap berada di mulutnya. Dan akhirnya lahar panas pun meluncur cepat ke dalam mulut Tiffany dan dengan beberapa tegukan saja sudah meluncur ke tenggorokannya.

 

Jesse yang melihat itu pun hanya bisa ternganga dengan perlakuan Tiffany.

 

“Sexy..”. Ucap Jesse lirih.

 

Tiffany yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis.

 

“Tidurlah, kita sama-sama lelah”. Ucap Tiffany setelah cairan Jesse lenyap sempurna dari mulutnya.

 

Tiffany pun dengan santai mengembalikan jaket milik Jesse dan memejamkan matanya, seolah semua yang terjadi hanyalah mimpi mereka berdua.

 

Jesse pun juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Tiffany, badannya memang lelah setelah pelepasan yang didapatnya tadi.

 

Perlahan mata Jesse pun mengantuk, dan Jesse memilih untuk mengikuti arus gelap di hadapannya. Seperti halnya arus gila yang baru saja dilakukannya dengan wanita cantik di sebelahnya ini.

 

**

 

Saat Jesse terbangun oleh sebuah tepukan di bahunya, Jesse mendapati Tiffany yang sudah berdiri dengan menggendong anaknya.

 

“Kami permisi dulu…”. Ucap Tiffany sambil tersenyum, begitu juga dengan suaminya.

 

Andai suaminya tahu kalau istrinya telah mengocok penis milik Jesse dengan mulut indah istrinya itu. Jesse pasti mendapat hantaman pada rahangnya.

 

Jesse hanya dapat menganggukkan kepalanya.

 

Saat pasangan itu perlahan keluar dari bus, Jesse hanya dapat menghela nafas. Mungkin kejadian kemarin hanyalah sebuah mimpi bagi Jesse, walaupun senyata apapun itu. Tetapi saat sebuah kejadian tidak dapat terulang, bagi Jesse itu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat indah.

 

Pandangan mata Jesse tertuju pada kursi di sebelahnya tempat Tiffany duduk, tetapi saat pandangannya menangkap sebuah kertas yang terselip. Jesse pun segera mengambilnya dan perlahan sudut bibirnya terangkat.

 

Sebuah deretan angka, mungkin nomor milik Tiffany. Dan ada beberapa deretan kata pula.

 

See you later, on next trip. On next place.

 

 

 

End

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “Nice trip”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s