jeti

Love can’t reach chapter 15 (END)

Love can’t reach chapter 15 (END)

 

 

 

 

Cast :

 

 

– Jessica Jung

 

– Tiffany Hwang

 

 

– Other cast find by your self

 

 

 

Enjoy this story, many typo

 

 

 

 

*****

 

Oh iya, buat para reader yg sudah menderita alzeimer. Saya sarankan buat baca beberapa chap sebelumnya biar otaknya nginget2 lagi ya.

(Tolong baca author note dbawah)

 

 

 

Jessica menggeliatkan tubuhnya, sesekali Jessica menggeserkan tubuhnya sedikit untuk mencari kenyamanan tidurnya. Tetapi Jessica tidak kunjung mendapatkan posisi nyaman yang diingikan, tidur dengan posisi miring seperti ini entah sudah berapa lama Jessica tidak tahu. Yang pasti tubuhnya kini terasa sangat pegal, belum lagi pinggang dan punggungnya yang terasa sangat berat. Serasa ada beban di sana, tapi Jessica bahkan tidak ada keinginan untuk membuka matanya.

 

Jessica hanya menggeliatkan tubuhnya tanpa ada keinginan untuk membuka mata, tetapi semakin Jessica menggeliatkan tubuhnya. Semakin berat pula pinggang dan punggungnya seolah ada cengkeraman di sana. Sungguh tidak nyaman untuk seorang Jessica yang tidak pernah mengalami kondisi ini seberapa pun lamanya Jessica tidur.

 

Jessica yang walaupun sudah sadar dari tidurnya, tetapi bahkan tidak ada keinginan untuk membuka matanya. Memang tubuhnya terasa pegal dan kebas, tetapi dari sisi lain entah mengapa ada sisi nyaman yang dia rasakan walaupun badannya terasa remuk.

 

Dengan tidak rela, Jesica pun membuka matanya perlahan. Jessica mengerjapkan matanya sesekali untuk menyesuaikan pengelihatannya, seingat Jessica tadi dia tertidur dengan hari yang masih terang. Tetapi kini terlihat sinar bulan yang mencoba masuk dari sela-sela jendela kamar yang gelap karena lampu yang belum dinyalakan.

 

Saat Jessica menggingat-ingat apa yang sudah terjadi, Jessica sadar betul apa yang telah terjadi dengan harinya ini.

 

Memang hari ini bukanlah hari yang paling bahagia untuknya, jelas. Jessica tidak bisa memikirkan apa yang akan dia lakukan esok hari, bisakah dia memulai harinya lagi seolah tidak ada yang telah terjadi. Akankah dia bisa menghadapi rasa malunya di depan semua orang, walaupun dirinya tidak merasa berbuat buruk. Tetapi dengan kejadian ini, Jessica sadar kalau dia sudah tidak ada artinya lagi. Apalagi di hadapan orang-orang yang memang berkaitan dengan semua ini, pasti akan sangat menyakitkan untuk Jessica. Harga dirinya telah tersakiti.

 

Jessica yang merasa cukup untuk memikirkan apa yang sedang membuat hatinya tidak tenang pun memutuskan untuk bangun dari tidurnya, lebih tepatnya lamunan setelah tidurnya. Jessica mencoba untuk bangun dari tidurnya, saat Jessica mencoba untuk bangun. Bukannya Jessica terduduk, melainkan tubuh Jessica yang semakin tertarik ke ranjang itu.

 

Jessica pun mencoba lagi untuk bangkit, dan tubuhnya pun semakin tertahan di ranjang seolah ada yang menjeratnya. Jessica yang merasa perut dan pinggangnya terasa kaku pun menurunkan pandangannya ke arah perutnya.

 

Saat pandangan Jessica mengarah ke arah perutnya, bukan celananya yang terasa sempit atau posisi tidurnya yang salah. Tetapi memang ada hal yang membuat otot-otot perut dan punggungnya terasa sangat kaku.

 

Dapat Jessica lihat, kalau ada lengan yang memeluknya dari belakang. Terasa semakin erat setiap Jessica menggerakkan badannya, seolah lengan tersebut tidak ingin ada pergerakan apapun yang dapat mengganggu kenyamanannya.

 

Seketika Jessica merasa tidak nyaman saat merasakan pelukan yang semakin mengerat dari belakang tubuhnya. Jessica merasa kalau ada yang aneh dengan kondisinya saat ini. Bagaimana bisa dia berakhir dalam pelukan seseorang seperti ini saat Jessica terakhir kali mengingat kalau dirinya hanya sedang berbaring nyaman di ranjang,

 

Sebentar….

 

Berbaring di ranjang, yang dia ingat rasa dan aroma ranjang ini bukanlah miliknya. Ini bukan ranjang beraroma segar miliknya. Ini terasa begitu, entahlah. Terasa begitu beraroma manis mungkin.

 

Sungguh sedikit menakutkan saat kamu bangun dari tidurmu, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya datang. Kamu harus dihadapkan dengan keadaan yang asing untukmu, seolah tubuhmu telah diculik dari kewajaran yang biasa kamu dapatkan.

 

Jessica terus saja menggeliatkan tubuhnya dan mencoba melepaskan kekangan yang ada di perutnya itu. Dan saat merasa kalau kekangannya itu tidak bisa dilepaskan dengan mudah dan perutnya yang terasa sakit karena kekangan yang kian kuat ini. Jessica pun menyerah, Jessica tidak lagi berusaha melepaskan diri. Walaupun situasi yang Jessica alami saat ini masih terasa janggal untuknya, sangat.

 

Dan seiring Jessica yang tidak lagi berontak, seiring itu juga kekangannya pun melembut seolah sensornya yang menandakan tawanannya tidak melakukan perlawanan lagi. Bahkan sesekali kekangannya itu seperti sedang mengelus-elus perutnya sesekali yang masih terbalut pakaiannya itu.

 

Saat Jessica sayup-sayup mendengar suara teratur dari balik tubuhnya, dan perlahan terasa hembusan hangat tepat di belakang lehernya. Sungguh darah Jessica seketika berdesir saat merasakan hembusan hangat dan elusan lembut yang semakin membuatnya lupa akan kesadarannya.

 

Saat merasa sudah tidak tahan akan tubuhnya semakin memanas, Jessica dengan keberaniannya dan ketidak nyamanan yang semakin menjadi. Jessica pun mencoba memutarkan pandangannya ke arah belakang tubuhnya, memastikan kekangan macam apa yang dengan bersikukuhnya menawan tubuhnya tanpa ampun ini. Seolah ingin selamanya mengekang tubuh Jessica dalam kungkungan erat dan hangat ini.

 

Dan saat pandangan Jessica sudah terarah ke arah belakang kepalanya, dengan posisi tubuh yang masih berbaring menyamping. Jessica menemukan penyebab kenapa tubuhnya terasa berat dan terasa terikat, dan jantung Jessica pun seketika berdegup kencang.

 

Seketika kekangan yang terasa menyiksa Jessica, sekarang tubuh Jessica seolah menerima kekangan itu sebagai sebuah dekapan. Otot-otot Jessica yang tadinya seolah menegang, sekarang tiba-tiba saja menjadi rileks. Seakan menerima kekangan yang sebenarnya masih mengerat di tubuh Jessica.

 

Bahkan wajah Jessica yang tadi terlihat gelisah, kini dengan perlahan berubah berseri. Senyum mengembang di seluruh wajah Jessica, seolah hari yang Jessica lewati adalah hari yang paling membahagiakan diseluruh hidupnya. Yang nyatanya jelas bukan.

 

Tetapi memang, perlakuan seseorang yang ada di belakang Jessica sekarang. Atau lebih tepatnya Tiffany. Sudah bisa membuat harinya ini berubah, sangat bertolak belakang.

 

Tangan Jessica dengan perlahan terulur ke arah kedua tangan Tiffany yang berada di perutnya sedang mengekang erat tubuh Jessica. Perlahan tangan Jessica bertumpu di atas tangan Tiffany, sesekali jemarinya mengosok-gosok punggung tangan Tiffany. Dengan wajah Jessica yang masih tetap menatap ke arah wajah Tiffany.

 

Walaupun leher Jessica terasa kaku karena melihat wajah Tiffany yang berada tepat di belakang kepalanya, tetapi tidak membuat senyum menghilang dari wajahnya. Perlahan Jessica membalikkan badannya dengan hati-hati agar tidur Tiffany tidak terganggu.

 

Dan kini Jessica dengan leluasa dapat melihat wajah Tiffany dengan sepuasnya, tidak perlu lagi terhalang oleh rambutnya yang berantakan. Perlahan jemari Jessica terangkat menuju ke arah wajah Tiffany, membelai kontur wajah sempurna milik Tiffany. Pelipis, pipi, dagu. Dengan sedikit elusan disetiap sentuhannya.

 

Dengan perlahan Jessica mendekatkan wajahnya ke arah wajah Tiffany, sangat perlahan seolah setiap gerakannya yang berlebihan dapat membangunkan tidur nyenyak gadis mempesona yang ada di hadapannya ini. Dengan perlahan jarak wajah Jessica semakin berkurang dengan wajah Tiffany, semakin lama semakin dekat sehingga Jessica dapat merasakan hangat nafas Tiffany yang teratur.

 

Jarak wajah Jessica yang sangat dekat sehingga Jessica dapat melihat dengan jelas bulu alis Tiffany yang lancip, bulu mata Tiffany yang lentik terawat. Hidung mancung Tiffany yang licin, seolah saat ada monyet sedang bergelantungan disana akan langsung jatuh. Jessica dengan leluasa memandangi wajah Tiffany sepuas diri, Jessica pikir tidur Tiffany seperti beruang saja.

 

“Bagaimana bisa hari burukku lenyap hanya dengan memandangimu tidur. Sedalam itukah aku jatuh ke dalam cinta ini”. Jessica mulai bermonolog, bisikan yang dia yakin tidak akan didengar oleh siapapun.

 

“Kamu yang tidak akan menyadari cinta yang besar untukmu, sedangkan aku akan terus terkurung dalam ruang yang disebut pertemanan”

 

“Dan saat aku ingin berusaha berpaling darimu walaupun aku tahu itu mustahil, yang aku dapatkan hanyalah kesakitan”. Jessica yang mendengar perkataannya itu hanya bisa tertawa.

 

Menertawai kesialan hidupnya yang tak kunjung reda, tetapi semakin menjadi di setiap langkahnya. Jessica yang untuk kesekian kalinya hanya bisa menangisi hari buruknya. Menangisi kesakitan berlipat yang didapatnya tanpa henti.

 

Pandangan Jessica yang semakin memburam akibat air matanya yang tanpa tahu tempat ini, bahkan wajah Tiffany yang ada tepat di hadapannya ini terlihat mengabur. Bahkan kini Jessica seperti melihat kalau Tiffany sedang memandanginya, yang jelas-jelas Jessica tahu kalau Tiffany sedang terlelap dalam tidurnya.

 

Dan dengan tiba-tiba tubuh Jessica ditarik ke arah tubuh Tiffany yang sedang tidur, dan didekap semakin erat. Dekapan yang tadinya sedikit melonggar karena Jessica yang sibuk dengan tangisannya kini kembali mengerat, kembali menyesakkan dadanya kembali.

 

Tubuh Jessica seketika menegang, karena terdengar isakan samar-sama dari orang yang mendekapnya itu. Jessica berpikir apakah Tiffany sedang mendapat mimpi yang buruk dalam tidurnya.

 

“Kalau berpaling dariku adalah sebuah kesakitan, maka jangan kamu berpaling Jessie. Tetaplah melihat ke arahku”. Ucap Tiffany pelan, masih terdengar suara seraknya bangun tidurnya.

 

Jessica dengan seketika melepaskan dengan paksa dekapan Tiffany, walaupun sebenarnya Jessica tidak rela. Tetapi Jessica harus memastikan kalau Tiffany tidak dalam kondisi mengigau.

 

Dan saat pandangan Jessica bertemu dengan mata Tiffany, sungguh tubuh Jessica seakan membeku. Saat air mata Jessica usap agar dapat melihat lebih jelas, di sana dia dapat melihat Tiffany yang memandanginya dengan mata merah dan wajah basah karena air mata.

 

Maksud Jessica yang ingin bermonolog tanpa diketahui Tiffany, kini malah Tiffany mendengar semua yang dia ucapkan.

 

Oh, benar saja. Tiffany bukan seperti dirinya yang tetap akan tidur walaupun ada badai topan sekalipun. Tiffany akan dengan mudah bangun saat alarm berbunyi pada dua deringan saja. Oh, bagaimana dia bisa lupa akan itu.

 

“Jangan kamu mencoba menjauh dariku, karena saat kamu menjauh dariku. Di saat itu juga aku merasakan kesakitan yang sama sepertimu Jessie. So, please don’t change your love from me. Cause it’s hard for me too”. Ucap Tiffany dengan mata yang semakin memerah, memohon dengan tatapan sendu seakan hidupnya akan berakhir saat Jessica berpaling darinya.

 

“Oh Tiff…”. Jessica serta merta memeluk Tiffany dengan erat, Jessica tidak menyangka perkataan Tiffany itu benar-benar datang dari mulutnya. Bukan dari mimpi-mimpi yang selalu menghiasi tidurnya.

 

Tiffany yang mendapat rengkuhan itu pun hanya bisa tersenyum dalam sisa-sisa tangisnya, betapa Tiffany tidak pernah menyangka kalau Jessica menyimpan perasaan yang sama untuknya. Tiffany diam-diam merutuki dirinya yang tidak mau berterus terang kepada Jessica akan perasaannya. Namun hanya diam dalam hubungan yang tidak berguna dengan Krys yang malah berakibat kesakit hatian.

 

“Oh iya, aku ingat sesuatu”. Ucap Tiffany di sela-sela pelukan hangat mereka.

 

Sambil melepaskan pelukan mereka, dia pun sedikit bangkit dari tidurnya dan bergeser semakin mendekat ke arah Jessica. Yang tubuh mereka memang dari awal sudah menempel kini Jessica semakin terhimpit oleh tubuh Tiffany, sampai-sampai sebagian tubuh Tiffany yang menindih tubuh Jessica.

 

Tiffany pun menjulurkan tangannya ke arah Β laci yang ada disebelah Jessica, dan mengambil sebuah kotak yang ada disana.

 

Saat Tiffany mencari-cari kotak itu, dia tidak menyadari tubuhnya yang semakin menindih tubuh Jessica yang berada dibawahnya. Karena sekarang tubuh atas Tiffany sudah menindih tubuh Jessica. Dan tanpa Tiffany sadari lagi, sekarang leher Tiffany sudah menempel pada wajah Jessica.

 

Tiffany yang fokus untuk mencari kotak itu bahkan tidak menyadari Jessica yang sedang menahan nafas karena bibirnya sudah menempel pada leher Tiffany. Jessica dengan tubuh tegang hanya bisa menahan degup jantungnya yang berdetak liar. Dia bahkan tidak berani untuk menelan ludah, takut-takut Tiffany menyadari kegugupannya.

 

Saat Tiffany sudah mendapat apa yang dicarinya, dia pun segera duduk sambil menggoyang-goyangkan kotak yang ada di tangannya.

 

Jessica yang melihat kotak itu pun seketika langsung duduk tegak, melupakan kegugupan yang sempat melandanya tadi. Jessica seperti pernah melihat kotak cincin itu, tapi bukankah banyak kotak seperti itu.

 

“Jangan bilang kalau kamu lupa dengan kotak ini”. Ucap Tiffany sambil memicingkan matanya, memandang Jessica tajam.

 

Jessica yang melihat itu pun hanya bisa berpikir semakin keras.

 

“Oh god Jessie, i can’t blief it”. Ucap Tiffany tidak sabar dengan segera membuka kotak cincin itu dan mengambil salah satu cincin itu.

 

Tiffany dengan cekatan memasangkan salah satu. Cincin itu di jari manis Jessica dan cincin yang lain dipasangkannya pada jari manisnya sendiri.

 

“Aku menukar nama yang ada di cincin kita, jadi yang punyamu ada namaku di sana dan yang kepunyaanku ada namamu di sana”. Ucap Tiffany cepat.

 

Jessica yang melihat semua itu hanya bisa terdiam, tercengang dengan apa yang terjadi. Semua ini terlalu cepat terjadi untuknya, otaknya yang masih memproses itu pun masih harus bekerja keras.

 

Tiffany yang menyadari Jessica yang hanya terdiam pun langsung saja mendorong Jessica berbaring ke ranjangnya dan memegangi pundak Jessica dengan erat agar Jessica tidak memberontak. Walaupun Tiffany tidak yakin apakah Jessica akan memberontak ataukah akan menikmatinya.

 

Tiffany pun dengan sigap menurunkan wajahnya mendekat ke wajah Jessica yang tegang, dan dengan cepat Tiffany meraih bibir atas Jessica dengan bibirnya. Tiffany mulai mengecap bibir Jessica dengan perlahan, menikmati rasa manis dari bibir Jessica yang selalu menjadi candu untuk Tiffany.

 

Kecapan-kecapan pada bibir atas Jessica, kini berpindah pada bibir bawah Jessica. Kecapan pun berubah menjadi lumatan, lumatan pada bibir bawah Jessica yang tipis, yang selalu mengundangnya setiap kali Jessica berbicara terlalu banyak pada Tiffany.

 

Lidah Tiffany yang sedari tadi diam saja, kini pun dengan perlahan menjilati bibir bawah Jessica. Dan saat itu juga, Jessica yang sedari tadi hanya menegang dibawah kungkungan Tiffany. Kini perlahan mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan tangannya pada pinggang ramping Tiffany, dan perlahan membalas lumatan-lumatan bibir Tiffany.

 

Lidah mereka pun kini saling meraih satu sama lain, kini lidah mereka saling membelit. Saling beradu, seakan lidah mereka dapat saling menyatu saat lidah mereka terus saling menggesek satu sama lain.

 

Tiffany yang berada di atas Jessica terus saja menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari posisi yang nyaman untuknya menyerang Jessica.

 

Ciuman dan lumatan yang semakin intens antara mereka, pelukan yang kian mengerat seiring tubuh mereka yang semakin memanas saat bibir mereka beradu.

 

Dan disitulah mereka menyadari akan rasa cinta mereka yang seharusnya sudah sejak lama menyatu. Saat seharusnya sudah sejak lama mereka menyadari akan cinta satu sama lain. Bukan hanya terjebak akan keadaan yang mengurung mereka, menenggelamkan dalam kesakitan yang tiada henti. Saat mereka dapat melihat lebih dalam hati satu sama lain, mereka akan menyadari kalau hati mereka memang sudah seharusnya bersatu.

 

 

 

 

END

 

 

 

 

*****

 

Hei apa kabar

 

Kalo ada yg ngomong udah lupa jalan ceritanya, maka saya saranin buat baca chap sebelumnya. Karena saya juga melakukan hal yg sama, buat dapet feel yg bagus

 

Kalo ada yg gak suka endingnya, tolong kasih tau saya fimana letak gak saukanya. Bukan cuma bisa bilang “jelek” atau “kurang ngfeel”

Itu bikin author frustasi tanpa mau ngasiuh solusi

 

Oh ya, saya mau bilang aja, kalo saya mungkin bisa nulis. Tapi itu pun gak yakin (serius) T,T

 

tapi yg pasti, saya bakal cuma nulis genben. Inget, GENBEN

 

jd yg gak suka, saya minta maaf.

Karena dari awal, cerita gxg itu bukan sesuatu yg bagus buat otak kalian(buat saya juga)

 

Saya suka bgt jeti, tp buat org lain yg gak tau, ini cuma crita nyeleneh yg gak wajar.

 

Dan lagi2 saya mau bilang, saya gak yakin bakal bisa mampir2 😦

Serius, saya kyk lagi good bye stage gitu 😦

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Love can’t reach chapter 15 (END)”

  1. Duh… Duh…. Jeti emang paling bisa buat orang seneng. Lagi2 bikin orang senyum2.
    Dag dig dug waktu baca nya takut sad ending dan ternyata wa….. HAPPY ENDING. YEYYYYY…. πŸ’ƒπŸ’ƒ πŸ˜€

    Hahahaha…. Sepertinya posisi jeti gantian. Di last pray jesse di atas dan disini tiff yg di atas. πŸ˜‚πŸ˜‚

    THOR jangan dulu lah say goodbye
    Kan baru kenalan.
    Ya ya 😁

    Like

  2. Huahhh😭 udah ending. Tp gk pp deh yg penting jet udh bersatu😊.
    Uhh gue bacanya dag dig dur der.. jantung gue maahh udh deg degan mulai dari awal bacanya. Aku suka kata2 jessie ama si tiffy tadi. Uhh gue bacany td ngulang2 terus.. karena keren banget end nya hahaha..
    Ending nya keren banget kak..
    Jeti forever~β™‘
    Happy ending..
    Thanks kakak~

    Like

  3. lagi serius2 nya baca sambil dihayati eh ada kata *monyet* yg tadinya sedih langsung ngakak. ada comedy-nya. i love it. woaah happy ending lagi. cieee kisseu~~~

    Like

  4. Woaaahhhh…. happy ending wkwkwk…
    tp jgn say good bye dong msh ingin baca cerita jeti lainnya yg dibuat oleh author huhuhu….

    Like

  5. Betul bgt Thor, sebenernya gw lebih suka Jeti yg genben, kalau girlxgirl kayaknya agak2 gmna gitu, tapi apalah daya kebanyakan ff itu girlxgirl semua,
    But, udah ada yg mau bikin story Jeti aja gw mah udah seneng..

    Like

  6. Wohhhh,,pagi gini baca yg romantis hd tmbh smngat,,akhirx jeti bersatu..
    ❀️❀️❀️❀️❀️❀️
    😍😍😍😍😍😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s