jeti

Last pray chapter 3(END)

Last pray part 3 (end)

 

 

 

 

Cast : find by your self 🙂

 

 

Author : simple jeti

 

 

Enjoy this story, many typo

 

 

*****

 

 

Ok, kyk yg saya bilang kemarin. Saya bakalan susah buat update lg atau yg parahnya lg saya gak bakal update lg. Jd sebisa mungkin saya bakal nyelesaiin chap2 yg belum. Tp walaupun saya updatex lbh cpet, bukan brrti saya ngawur buatx. Saya ttep pakek feel dan terus terang chapter ini saya suka banget, gak tau kenapa rasanya enak aja pas nulisnya. Dan hal2 yg kyk gini yg ngbuat saya berat buat nglepas ‘tempat’ ini, dimana saya bisa nulis sesuatu yg ada di kepala saya dalam tulisan yg bisa dibaca orang. (Saya nulis author note di awal karena saya tau banyak yg gak sudi buat baca author note di bawah 🙂  ) kalo kalian masih gak sudi buat baca yg ini, saya gak tau lagi buat ngmg kayak gimana lagi 😦

 

Again, enjoy the story

 

 

Seperti hari-hari biasanya, seperti halnya hal-hal yang tidak pernah ingin orang lain rasakan. Tiffany yang masih terkurung dalam sangkar megah ini, tanpa bisa melakukan pergerakan yang berarti. Hanya bisa melihat sibuknya orang-orang yang berada di luar pagar sangkar megahnya.

 

Orang-orang yang terlihat selalu terburu-buru untuk segera menyelesaikan apapun yang akan mereka lakukan. Tiffany yang empat bulan lalu juga masih berada di posisi orang-orang itu, yang juga selalu terburu-buru saat berangkat ataupun pulang dari pekerjaannya.

 

Yang juga akan selalu merasa hari sibuk yang mencekiknya tidak akan pernah ada habisnya. Tapi sekarang lihatlah dia, hal yang paling sibuk untuk Tiffany saat ini mungkin hanyalah menyisir rambutnya. Itupun kalau para pelayan tidak Tiffany larang untuk melakukannya, maka Tiffany hanyalah sebuah boneka yang tidak akan perlu melakukan apapun selain bernafas. Itulah perbedaan Tiffany dan boneka, hanya dari bernafas. Selebihnya mereka sama.

 

Karena tangan dan kaki Tiffany pun seolah digerakkan oleh orang lain, Tiffany yang selalu dibatasi ruang geraknya. Apalagi sekarang Tiffany bahkan dengan pasrahnya harus menerima kalau mulai sekarang Tiffany adalah pengangguran.

 

Tiffany dengan tanpa mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba saja Jesse mengatakan kalau Tiffany tidak perlu lagi bekerja di kantornya. Entah apa alasannya, yang Tiffany tahu dia hanya sedang cuti. Tapi Jesse dengan seenaknya saja berkata begitu.

 

Belum lagi Tiffany yang tidak boleh mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kalau semisal Tiffany masih berniat untuk meneruskan hidupnya. Setidaknya dia membutuhkan uang bukan, tetapi jangankan untuk mencari pekerjaan. Untuk keluar dari kediaman Jesse pun Tiffany harus ditemani Jesse, selalu.

 

Kebebasan yang dulunya sangatlah mudah didapatkan Tiffany, kini seakan hanya angan untuknya. Dimanapun Tiffany berada, dia tidak pernah ditinggalkan sendirian. Selalu ada seseorang yang berdiri dibelakang mengawasi setiap langkah Tiffany, bahkan mungkin penjaga itu bisa menghitung berapa langkah yang telah Tiffany dapatkan dalam satu hari.

 

Dan hanya di sinilah Tiffany dapat mendapat sedikit kebebasannya, di dalam ruangan lembap yang cukup luas untuk ukuran sebuah kamar mandi. Sungguh, kamar mandi milik Jesse saja besarnya hampir menyamai kamarnya yang ada di apartemen. Atau mungin saja melebihi, entahlah Tiffany tidak mau memusingkan kepalanya hanya untuk memikirkan kamar mandi milik Jesse ini.

 

Sejenak Tiffany berpikir, dia sangat ingin sesekali menghirup udara segar. Bukan hanya menghabiskan waktunya dengan dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi rumah ini. Mungkin saja itu dapat menghilangkan tekanan berat yang ada di kepalanya yang bisa kapan saja membunuhnya.

 

Walaupun Tiffany memang berniat mati, tapi setidaknya dia ingin mati dengan keadaan udara yang cukup untuk mengantarkannya ke surga. Setidaknya Tiffany ingin menghirup udara segar untuk terakhir kalinya.

 

Tiffany dengan tekad sebesar tornado pun memutar otaknya yang sebenarnya tidak terlalu dapat bekerja dengan baik belakangan ini.

 

Mungkin memang ide yang buruk saat seseorang dengan tekanan batin yang besar harus dicekoki dengan tekanan yang semakin menghimpit dadanya. Setidaknya saat ini Tiffany ingin hari-hari terakhirnya sedikit membaik untuk Tiffany.

 

Dengan sedikit ide yang ada di kepalanya, Tiffany pun keluar dari rumah dengan tanpa di ikuti oleh orang-orang Jesse. Jantung Tiffany berdegup kencang saat keluar dari rumah Jesse dengan cara seperti ini. Tiffany tidak pernah sekalipun lari dari rumah Jesse, selalu dengan perintah dan orang-orang Jesse.

 

Walau dengan lengan yang masih disangga, dan jalan Tiffany yang masih belum bisa maksimal. Tetapi Tiffany untuk pertama kalinya merasa sedikit bersemangat, jantungnya yang berdegup cepat membuatnya semakin ingin melangkahkan kakinya sejauh yang dia inginkan.

 

 

***

 

Entah sudah sejauh mana Tiffany melangkah, dia tidak menghitung langkah yang di ambil oleh kakinya. Tetapi yang pasti, Tiffany merasa kalau kakinya sudah mulai kelelahan dan tubuhnya semakin melemah.

 

Saat pandangan matanya melihat sebuah taman kecil yang diapit oleh gedung-gedung tinggi di kanan dan kirinya, Tiffany memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mungkin setelah ini dia bisa berjalan lagi.

 

Tiffany menghela nafas lelahnya, menghirup sedalam-dalamnya udara yang bisa didapat oleh paru-parunya. Untuk bekalnya di surga nanti, mungkin saja di sana tidak ada udara yang cukup untuk Tiffany.

 

Saat Tiffany sedang menikmati waktu sunyinya, tiba-tiba saja terdorong kebelakang karena sebuah pelukan erat yang didapatnya. Tubuh Tiffany yang belum siap mendapatkan perlakuan itu dan belum lagi lengannya yang sedikit nyeri karena gerakan tiba-tiba itu membuat tubuh Tiffany semakin kesakitan.

 

“Tiffany, akhirnya aku menemukanmu”.

 

“Aku benar-benar khawatir saat kamu menghilang”.

 

“Please, jangan pergi lagi. Aku membutuhkanmu”.

 

Ucap orang itu dengan memohon seolah Tiffany adalah segala baginya. Orang itu masih dengan memeluknya erat

 

Setelah puas, dia pun perlahan melepaskan pelukannya pada Tiffany. Menatapnya dengan tatapan rindu, terlihat tatapan memohon yang masih terpampang di wajahnya.

 

Tiffany yang dilihat dengan tatapan penuh kerinduan itupun hanya bisa terdiam melihat orang ang ada di hadapannya itu. Tanpa mau membalas pelukannya, tanpa ada keinginan untuk menjawab semua rentetan kata rindu dari orang yang sekarang ada di hadapannya itu.

 

Orang itu sekarang berpindah duduk di sebelah Tiffany dengan jemari tangan mereka yang bertautan, lebih tepatnya orang itu yang meraih tangan Tiffany. Karena Tiffany masih saja terdiam tenggelam dalam pikirannya.

 

“Apa yang kamu lakukan di sini?”. Ucap Tiffany akhirnya.

 

“Tentu saja aku mencarimu”.

 

“Pergi…”. Ucap Tiffany masih dengan datar.

 

“Tiffany…”.

 

“Kamu tau, badanmu sangat bau”.

 

“Apa maksudmu?”. Ucap orang itu tidak mengerti, demi tuhan dia tidak pernah bermasalah dengan bau badan.

 

“Badanmu bau, bau sperma temanmu”. Ucap Tiffany tajam.

 

“Fany…”. Ucap orang itu dengan pelan, seakan suaranya tertelan oleh rasa pahit di tengorokannya.

 

“Aku tanya sekali lagi, mengapa kamu di sini Taeyeon?”. Ucap Tiffany dengan sedikit geram.

 

“Te…tentu saja aku sangat mengkhawatirkanmu”. Ucap Taeyeon dengan terbata-bata.

 

“Benarkah?, bukan karena teman lelakimu itu punya lubang lain untuk mainannya”. Balas Tiffany dengan pandangan remeh.

 

“Tt…Tiffany. Bukan seperti itu”.

 

“Terakhir kali aku tidak sengaja melihat teman lelakimu berjalan mesra dengan wanita yang jelas bukan kamu”. Kata Tiffany masih dengan geram.

 

“Kamu tidak sengaja kan melihatku tadi, dan dengan manisnya seolah kamu sangat senang bertemu denganku. Seperti kamu mencariku saja”.

 

“Aku sudah lelah Tae, ini benar-benar menyesakkan. Hanya menjauhlah dariku, please”. Ucap Tiffany dengan mata yang sudah berkaca-kaca, suaranya dibuat sedatar mungkin. Walaupun nafasnya sedikit tersendat-sendat.

 

Tiffany dengan tanpa melihat ke arah Taeyeon pun memilih meninggalkan Taeyeon yang memanggil-manggil namanya. Tanpa mau mendengar penjelasan apapun dari Taeyeon, hatinya sudah benar-benar lelah menghadapi semua ini. Tujuan awalnya yang ingin mendapat udara segar kini yang didapat oleh Tiffany hanyalah rasa pahit di paru-parunya.

 

Tiffany melangkahkan kakinya tanpa arah, dengan tubuh yang masih merasakan lelah. Kini semakin ditambah dengan kelelahan hati dan pikirannya, tubuhnya mungkin sebentar lagi akan mati rasa kalau Tiffany merasakan tekanan lain lagi.

 

Dan Tiffany rasa, kesedihan yang didapatnya tanpa henti sudah pada titik jenuhnya. Belum lagi selama beberapa bulan ini dia harus tinggal bersama Jesse yang benar-benar membuatnya semakin tertekan.

 

Tiffany hanya bisa memandang jalan trotoar yang ada di hadapannya itu dengan tatapan kosong. Dengan masih tetap berjalan, dia hanya bisa memikirkan kesakitan apa lagi yang akan diberikan kepada tuhan untuknya.

 

Tuhan benar-benar tidak menyayanginya, sudah beberapa bulan ini keyakinannya akan kasih tuhan semakin luntur. Saat orang lain dapat berbahagia dengan cinta yang mereka dapat, Tiffany harus berjalan dengan hati terluka sendirian.

 

Tanpa ada seseorang yang mau meraih tangan Tiffany dalam genggaman, tanpa ada yang mau merengkuh tubuh ringkih Tiffany dalam dekapan hangat. Yang ada hanya kesakitan yang kian menyesakkan dada tanpa henti.

 

Seiring dengan pikiran dan hati Tiffany yang semakin berangan liar, seiring itu juga air mata Tiffany yang semakin turun tanpa mau ditahan. Tiffany tidak memperdulikan tatapan heran dan aneh dari orang-orang yang berpapasan dengan Tiffany, persetan dengan orang-orang itu.

 

Mungkin memang benar, dirinya tidak akan cukup bagus untuk mendapatkan hati yang tulus hanya untuknya. Mungkin Tiffany terlalu hina untuk merasakan cinta yang indah dari seseorang.

 

Mungkin cinta semu Taeyeon yang dia dapat, sudah cukup bagus untuknya merasakan cinta walau hanya angannya saja.

 

Mengapa Tiffany harus menyalahkan Taeyeon, kalau penyebab semua ini terjadi adalah dirinya sendiri. Dirinya yang tidak akan cukup bagus untuk siapa pun.

 

Saat Tiffany dan pikirannya tidak ada lelahnya untuk berkeliaran, tapi saat itu juga Tiffany menyadari kalau tubuhnya sudah tidak kuat untuk berjalan.

 

Tiffany pun memutuskan untuk berhenti berjalan, terdiam ditengah trotoar yang terasa sepi. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang lagi, entahlah.

 

Tiffany pun dengan tanpa sadar menghadapkan tubuhnya ke arah jalan raya yang ada di hadapannya kini. Terlihat beberapa kendaraan yang seolah berlomba-lomba untuk segera sampai ke tempat yang ingin di tuju. Tanpa memperdulikan kakau ada Tiffany yang sedang berdiri memperhatikan mereka.

 

Sungguh Tiffany rasa , semua makhluk di dunia ini sangat egois. Tidak ada yang mau membagi sedikit perhatiannya untuk Tiffany, sedikit saja. Sedikit saja rasa cinta yang tulus untuk Tiffany, maka Tiffany akan dengan rela tinggal di bumi yang menyakitkan ini.

 

Sedikit saja perhatian untuk Tiffany, maka Tiffany akan rela menghabiskan sisa hidupnya walaupun itu akan penuh dengan tangisnya. Walaupun sisa hidupnya akan penuh dengan darah yang menggantikan air matanya.

 

Oh tuhan, rasanya Tiffany sungguh sulit mempercayai indah kasihmu saat ini. Dulu Tiffany sangat mengagungkanmu, tetapi kini hanya kubangan hitam pekat yang ada di dalam hatinya.

 

Entah itu ke surga atau neraka, Tiffany tak lagi peduli. Yang dia tau, tuhannya sudah tidak menganggapnya sebagai hamba yang pantas lagi.

 

 

Saat lagi-lagi pikiran Tiffany sedang menenggelamkan kesadarannya, tiba-tiba saja ada lengan yang mengalung di lehernya. Menyentuh pundaknya dengan erat.

 

Saat Tiffany dengan perlahan menoleh ke arah samping, tempat orang itu berdiri. Orang itu hanya menatap jalanan yang ada di depan mereka.

 

“Mobil itu…”. Tunjuk orang itu ke salah satu mobil yang akan melintas di hadapan mereka.

 

“Mobil itu cukup bagus untuk ditabrak kan?”.

 

Kening Tiffany tiba-tiba berkerut, apa yang sedang dibicarakan orang ini?.

 

“Atau mobil itu, mobil itu terlihat mengkilap bukan?”. Ucap orang itu kepada mobil lainnya.

 

Tiffany yang hanya menatap orang itu tanpa menoleh ke arah mobil-mobil yang sedang ditunjuk. Hanya bisa menatap dengan kening berkerut.

 

“Mengapa pergi sendiri?”

 

“Apakah kamu sedang ingin jalan-jalan jauh dengan tangan yang masih seperti itu?”. Ucap orang itu sinis.

 

“Bukan urusanmu Jesse”. Balas Tiffany datar.

 

“Oh ya?”

 

“Lalu…apakah ini menjadi urusan Taeyeon?”. Jawab Jesse masih tetap sinis.

 

“jaga bicaramu!!”. Ucap Tiffany dengan suara sedikit meninggi.

 

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?. Setelah bertemu dengan Taeyeon, kamu berniat untuk menghantam mobil lagi?. Atau kamu akan mengiris pergelangan tanganmu setelahnya?”. Ucap Jesse dengan suara sama tingginya.

 

“APAKAH TIDAK ADA HAL LAIN YANG INGIN KAMU LAKUKAN SELAIN MENGELUARKAN DARAH DARI TUBUHMU?”. Lanjut Jesse dengan suara semakin tinggi dan wajah memerah.

 

“Apakah…apakah gantung diri tidak mengeluarkan darah?”. Jawab Tiffany kosong.

 

Jesse yang mendengar jawaban dari Tiffany semakin geram dengan perilakunya. Dengan lengan yang masih melingkar pada pundak Tiffany, dengan mengeratkan pelukannya itu Jesse pun menarik tubuh Tiffany mengikuti langkah kakinya.

 

Jesse dengan geram melangkah cepat menuju mobil yang diparkirnya tidak jauh dari sana, dengan tanpa memperdulikan langkah Tiffany yang terseok-seok mengikuti langkah Jesse. Jesse pun membuka pintu penumpang samping kemudi, dan mendorong Tiffany dengan kasar. Dia yakin lengan Tiffany akan terasa sakit, tetapi Jesse tidak perduli.

 

Jesse dengan cepat masuk ke belakang kemudi dan melajukan mobilnya dengan kasar, tanpa mempedulikan kendaraan lain yang mengklaksonnya. Dengan beberapa tikungan dan rem yang mendadak, sampai-sampai Tiffany yang tidak sempat memasang sabuk pengaman pun beberapa kali badannya terbentur bodi mobil Jesse.

 

Dan dengan kilat pun mobil Jesse sudah berada di depan pekarangan rumah milik Jesse, Jesse dengan nafas yang masih memburu pun segera turun dari mobil dan beralih ke arah Tiffany dan menarik Tiffany dengan keras.

 

Tiffany yang sedari tadi hanya bisa memekik dan berteriak kesakitan, tubuhnya sudah tidak ada tenaga untuk melawan Jesse yang masih segar. Entah apa yang akan Jesse lakukan padanya, Jesse tidak pernah sekasar ini sebelumnya.

 

Tanpa Tiffany sadari mereka kini sudah berada di depan pintu kamar milik Jesse, kamar yang Tiffany tidak pernah memasukinya.

 

Jesse menarik Tiffany dengan sentakan keras agar mengikutinya masuk ke dalam kamarnya, Jesse mengunci pintu dan membuang kuncinya asal. Berjaga-jaga apabila Tiffany ingin melarikan diri.

 

Dengan dorongan kuat Jesse menyudutkan tubuh Tiffany ke dinding, dengan erat Jesse mencengkram pundak Tiffany. Mengabaikan sakit yang Tiffany rasakan.

 

Jesse menatap tajam Tiffany yang sedang menatapnya ketakutan, dan lagi-lagi Jesse mengabaikan itu.

 

Jesse mendekatkan tubuhnya menghimpit tubuh Tiffany yang gemetar, ketakutan dengan apa yang diperbuat Jesse.

 

“Kalau aku tidak menyuruh orang untuk selalu mengikutimu diam-diam, apa yang akan kamu lakukan tadi?”. Tanya Jesse.

 

“Dengar!! Kamu memintaku untuk menyelamatkanmu dari dunia ini dan aku pun membawamu ke dalam duniaku, apa itu tidak cukup”. Ucap Jesse dengan perlahan.

 

Tiffany yang mendengarnya hanya bisa melihat Jesse tanpa berani menjawab, salah-salah yang didapat Tiffany hanyalah ledakan dari Jesse. Mungkin lebih.

 

“Kamu tidak pernah melihatku, aku diam saja. Kamu berkencan dengan kekasihmu itu, aku diam”. Ucap Jesse dengan geraman di sana-sini.

 

“DAN KALAU KAMU SEKARANG INGIN MATI, MAU KEMANA AKU AKAN MENCARIMU”. Ucap Jesse dengan teriakannya, Jesse sudah kehabisan akal melihat Tiffany yang ingin membunuh dirinya sendiri lagi.

 

“Tiff, kalau kamu berkencan dengan orang lain, setidaknya aku masih dapat melihatmu bahagia”. Ucap Jesse sendu

 

“Tolong jangan tinggalkan aku Tiffany, lakukan apapun maumu. Tapi jangan dengan cara seperti itu”. Ucap Jesse dengan mata memanas. Jesse menatap Tiffany dengan tatapan memohon.

 

“Jesse…”.

 

“Apalagi yang harus aku lakukan agar kamu bahagia Tiff?, saat kamu tidak ingin berada di sisiku”. Lanjut Jesse dengan air mata yang sudah turun, beberapa tetes dan memang sudah mengering. Jesse benar-benar marah dan hancur.

 

Semua sudah Jesse lakukan untuk Tiffany. Saat Tiffany memilih bebas, Jesse membiarkannya. Dan sekarang saat Tiffany berada di sisinya pun Jesse memberikan semua yang Tiffany butuhkan.

 

“Aku ingin selalu melihatmu, itulah makanya aku selalu memintamu lembur menemaniku. Sudah 4 tahun aku menahan perasaan ini, dan sekarang aku sudah tidak tahan lagi”.

 

“Apakah kamu…sangat menderita saat berada di dekatku?”. Apakah…Taeyeon begitu sangat hebatnya untukmu?”. Ucap Jesse dengan kepala bersandar pada pundak Tiffany, kedua tangan Jesse yang tadinya mencengkram pundak Tiffany kini sudah terjatuh.

 

Jesse sesekali menghela nafas panjang untuk meredakan sedikit emosinya, emosi yang dia tahan sekian lama.

 

Tiffany pun yang mendengar rentetan kata yang keluar dari mulut Jesse hanya bisa membeku, dia tidak pernah berharap Jesse mempunyai perasaan kepadanya. Yang dia lihat Jesse hanyalah atasan yang suka memerintah dan penuh dengan tuntutan.

 

Melihat Jesse yang biasanya penuh dengan intimidasi dan kini yang dilihat Tiffany hanyalah seorang laki-laki yang frustasi akan cintanya yang tidak terbalas. Entah dimana pikiran Tiffany selama ini sampai tidak menyadari ada cinta yang besar terpendam untuknya.

 

Dengan kepala Jesse yang masih tetap bersandar di pundaknya, perlahan tangan Tiffany pun terangkat pelan ke arah rambut Jesse dan meletakkan tangannya di sana.

 

Jesse yang merasakan sentuhan dari Tiffany pun langsung mengangkat pandangannya perlahan, dan saat pandangan mata mereka bertemu. Pandangan sendu Jesse dan Tiffany yang menjadi satu, Tiffany dapat melihat keputus asaan disana.

 

Keputus asaan yang pernah dirasakan Tiffany, kini terlihat jelas di mata Jesse. Perlahan tangan Tiffany yang masih berada di rambut Jesse, kini tangan Tiffany perlahan turun ke arah wajah Jesse.

 

Perlahan tangan Tiffany pun meraba pipi Jesse dengan lembut, sangat perlahan seolah wajah Jesse akan terluka jika Tiffany sedikit terlalu kasar menyentuhnya.

 

Saat pandangan Tiffany jatuh pada mata Jesse yang masih memerah, ujung bibir Tiffany sedikit terangkat. Memperlihatkan sedikit senyum untuk Jesse.

 

“Kamu tahu? Saat tadi aku bertemu Taeyeon, dia bahkan tidak menyadari lenganku yang sedang dibalut seperti ini”. Ucap Tiffany masih dengan senyum miringnya.

 

“Seseorang yang sangat lama bersamaku bahkan tidak pernah memperdulikan keadaanku, entah kenapa aku bisa bertahan dengannya”. Ucap Tiffany sambil terkekeh.

 

“Tiff…”

 

“Dan aku dengan bodohnya mengabaikanmu, apa..kamu benar-benar menyukaiku?”. Tanya Tiffany.

 

Jesse yang mendengar ucapan Tiffany terdiam sebentar dan menggelengkan kepalanya.

 

“Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu. Aku tergila-gila padamu. Dengan sepenuh hatiku”. Ucap Jesse dengan tatapan memelas.

 

Tiffany yang melihat tingkah Jesse yang menggemaskan itu hanya bisa terkikik, sungguh pikirannya tidak pernah pada tahap melihat Jesse dengan cara seimut ini.

 

“Hei..aku serius, jangan tertawa”. Jesse yang melihat Tiffany tertawa pun cemberut, dia sungguh dengan pernyataannya tetapi entah mengapa Tiffany malah menertawakannya.

 

Tiffany tidak dapat lagi menahan tawanya, dia pun semakin tertawa lepas melihat Jesse yang berubah cemberut. Demi tuhan sungguh tidak pernah terbayang perubahan-perubahan ekspresi Jesse yang menggemaskan seperti ini.

 

Jesse yang jengkel dengan Tiffany yang malah tertawa lepas atas pernyataan cintanya itu pun langsung mengangkat tubuh Tiffany dan dengan tanpa aba-aba menjatuhkan tubuh Tiffany di atas tempat tidur besarnya dan mengurung tubuh Tiffany dalam kungkungannya.

 

Tiffany yang mendapat perlakuan itu pun hanya bisa memekik dan mengerang dengan perlakuan kasar yang dari tadi Jesse berikan kepadanya.

 

Jesse dengan nafas yang naik turun pun hanya melihat wajah Tiffany dengan pandangan tajam, seolah sang elang menunggu mangsanya lengah dan akan mencengkram kapanpun sang elang mau.

 

“Kalau kamu tidak berhenti tertawa, aku akan membuat kamu tidak dapat tertawa lagi besok”. Ucap Jesse dengan geram.

 

Tiffany yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum.

 

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan hmm?”.

 

“Kamu tidak akan mau tahu, yakinlah”. Ucap Jesse masih dengan tajam.

 

“Jesse, kalau kamu berniat menyakitiku. Kamu sudah melakukannya bahkan sebelum kita sampai di rumah ini”. Ucap Tiffany memandang Jesse dengan memelas, sungguh badannya terasa remuk saat ini. Sungguh apa saja yang telah Jesse lakukan pada tubuhnya, tulang pada tubuhnya terasa tidak pada tempatnya.

 

Jesse yang menyadari maksud perkataan Tiffany pun seketika terkesiap, seolah kesadarannya telah kembali. Dengan masih mengurung tubuh Tiffany, dia pun dengan tergesa memeriksa seluruh tubuh Tiffany dengan pandangannya.

 

Dan saat pandangannya tertuju pada pergelangan tangan Tiffany, wajah Jesse pun langsung berubah kaku. Diraihnya tangan Tiffany dengan hati-hati, diusapnya pergelangan Tiffany yang tadi sempat digenggamnya erat. Mungkin terlalu erat, sampai membekas merah di sana. Bahkan ada bercak ungu disana menandakan kalau memar yang tercipta murni dari perbuatannya.

 

Sungguh Jesse seketika tadi seperti kehilangan akalnya, sungguh Jesse tidak pernah berniat untuk menyakiti Tiffany apalagi sampai seperti ini.

 

Jesse dengan hati-hati mengelus pergelangan Tiffany dengan lembut, dan dikecupnya pergelangan tangan Tiffany yang memar itu. Sungguh Jesse merasa dia adalah iblis, bagaimana bisa dia berbuat begitu kepada Tiffany.

 

Saat pandangan matanya kembali ke kedua mata Tiffany yang sedari tadi memandangnya dalam diam, dia dapat melihat kenyamanan yang dirasakan Tiffany atas perlakuannya itu. Jesse dengan tatapan sedih terus memandang Tiffany.

 

“Aku tahu kamu menyesal”. Ucap Tiffany dengan tatapan teduhnya.

 

“Jadi, apa…kamu mau menuntunku. Menuntunku untuk dapat merasakan cintamu, untuk selalu berada di sampingmu”. Ucap Tiffany dengan mata berbinar.

 

Jesse yang mendengar ucapan Tiffany pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali, dengan senyum yang tidak bisa dihilangkan dari wajahnya.

 

Jesse pun dengan tubuh yang masih setia berada di atas Tiffany pun langsung memeluk Tiffany dengan erat, meluapkan rasa yang bercampur ke dalam dekapan hangat mereka.

 

Tiffany yang mendapatkan pelukan itu pun hanya bisa tersenyum dalam diam, tangan Tiffany pun perlahan terangkat berniat membalas pelukan hangat Jesse.

 

Tetapi saat tangan Tiffany terangkat, tiba-tiba Tiffany pun mengerang.

 

“Akkhh”.

 

Jesse yang mendengar erangan Tiffany pun seketika mengarahkan pandangannya ke arah wajah Tiffany yang terlihat di sana sedang menahan sakit, tentunya dengan pelukan yang masih belum terlepas. Jesse tidak akan rela melepas pelukan mereka apapun yang terjadi, walau ada badai tornado sekalipun.

 

“Apa ada yang sakit?, apa aku ambilkan obat saja?,apa kita berangkat kerumah sakit sekarang?, atau aku panggilkan dokter saja?, katakan sesuatu Tiffany!!”. Ucap Jesse dengan panik, apalagi melihat Tiffany yang tak kunjung menjawab rentetan pertanyaan-pertanyaannya. Tiffany hanya terus memejamkan matanya dan menggigit bibirnya menahan erangan lain yang akan keluar dari mulutnya.

 

Jesse yang menunggu Tiffany yang tak kunjung menjawab pun dengan cepat memajukan wajahnya ke arah wajah Tiffany dan dengan kilat mencium bibir atas Tiffany yang masih menggigit bibir bawahnya.

 

Tiffany dengan seketika membuka matanya, tubuhnya seketika membeku. Sakit di lengannya tadi kini pergi entah kemana, seolah lenyap seiring dengan otaknya yang berhenti bekerja.

 

“Tutup bibirmu itu atau aku akan semakin menyerangmu Tiff”. Ucap Jesse yang melihat bibir Tiffany yang sedikit terbuka.

 

Tiffany pun dengan cepat menutup bibirnya rapat, sungguh Jesse bukanlah orang yang mudah ditebak. Bertahun-tahun bekerja bersama tidak menjamin Tiffany tahu segalanya tentang Jesse.

 

“Good”. Ucap Jesse.

 

“Sampai dimana kita tadi?”. Lanjut Jesse.

 

“Hug me?”. Jawab Tiffany ragu-ragu.

 

Jesse dengan tersenyum riang pun meraih tubuh Tiffany lagi ke dalam rengkuhannya, mencoba berhati-hati agar tidak menyakiti Tiffany. Menenggelamkan wajahnya ke dalam rambut harum Tiffany, sesekali menggesek-gesekkan hidungnya kearah pundak Tiffany yang membuat Tiffany kegelian karena ulahnya.

 

Tiffany yang hanya bisa menikmati pelukan hangat Jesse tanpa berani membalas pelukannya itu karena khawatir lengannya yang akan kesakitan lagi. Tiffany hanya bisa mengelus pinggang Jesse dengan ringan untuk memberitahu Jesse kalau dia merasa nyaman atas situasi yang mereka dapatkan saat ini.

 

Untuk Tiffany, entah itu perempuan atau laki-laki. Saat Tiffany mendapatkan cinta yang tulus, maka dia akan dengan senang hati bertahan di dunia ini. Lagi pula, Tiffany rasa dia sudah mempunyai alasan untuk selalu bertahan di dunia ini. Dengan Jesse yang selalu di sisinya, apalagi yang dia inginkan.

 

Saat ada orang yang pandangannya akan selalu tertuju padanya, itu semua lebih dari cukup. Tiffany tidak akan mengharapkan apa-apa lagi.

 

 

 

END

 

 

****

 

 

Hei apa kabar??

Gimana feelnya? Dapet apa enggak? Atau malah garing?

Terus terang saya agak gak srek sama ending akhirnya, kayak kurang apa gitu

Tapi puas lah…

 

Oke, see u on next update when i do. Ok

I repeat, when i do that. If i don’t, im so sorry 😦

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Last pray chapter 3(END)”

  1. Wahh kakak..
    Chap ini buat jantung ku degup dgn kencang.. terkadang aku merasa sedih dan ada juga merasa senang.
    aahh~ akhirnya jesse menyatakan cintanya kepada tiffy ..Jeti always.
    Aku suka bagian jeti nya.. wow
    Dan juga feel nya keren kak.
    Kak fighting always ok
    Thanks~

    Like

  2. Waaa…. Perasaan ku jadi nano2 . Baper, kesel, gregetan dan happy yg bikin senyam senyum gaje. Hehehe… Lumayan buat penghilang stress karna kesibukan 😁

    Tenang thor feel nya dapet banget kok. 😊
    Hwaiiiiitiiinggggg author. 💪😉😀

    Like

  3. wow akhir yang bahagia. saya suka saya suka. hebat bisa tahan perasaan sampe 4 tahun salut buat jesse. thor ada kepikiran buat bkn merried life nya jeti.???

    Like

  4. Huaa… dapat bgt feelnya
    wkwkwk… jangan putus buat cerita dong karena aku suka bgt sm cerita yg di buat author hehehe…

    Like

  5. Dapet banget kok fellnya Thor..
    Gw aja bacanya sambil senyum 2 gak jelas tadi, akhirnya Jeti bareng juga kan..Thor request dong bikin ff Jeti yg udah nikah dan tinggal bareng… Semangat author

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s